Ise do na parlobei?
Membaca tulisan Sdr Ir Gunawan Napitupulu di harian SIB
(meski minus dukungan referensi dan data-data literatur ilmiah) sebagai putera
Simalungun asli, saya teringat akan percakapan-percakapan formal maupun
informal di masyarakat kita, di mana saudara-saudara etnis Batak Toba
sepertinya tidak mampu dan tidak rela menerima dan mengakui “otherness” antara
suku bangsa Simalungun dan Batak Toba. Dan supaya Sdr Ir Gunawan Napitupulu ketahui, oleh karena
inilah sehingga Pdt. J. Wismar Saragih dan kawan-kawan dalam wadah Comite Na Ra
Marpodah Simaloengoen pada tahun 1928 mengadakan perlawanan kultural dan
intelektual terhadap pandangan dan kebijakan RMG dengan agency penginjil yang
didominasi kaum Kristen Batak Toba yang dirasakan sangat meminggirkan dan
merendahkan orang Simalungun yang pandangannya sama persis dengan pandangan Sdr
Ir Gunawan Napitupulu.
- Untuk yang satu ini saya anjurkan agar Sdr membaca disertasi
Pak Pdt. Dr. J. R. Hutauruk yang sudah diterjemahkan dan diterbitkan BPK Gunung
Mulia yang berjudul Kemandirian Gereja juga buku sejarah GKPS yang saya tulis
bersama Pdt. Dr. Martin Lukito Sinaga yang berjudul Tole den Timorlanden das Evangelium
(Jakarta, 2003).
Di kedua buku yang sarat dengan data-data ilmiah itu,
dibentangkan bagaimana RMG plus agency Kristen Batak Toba tetap tidak mampu
mengakui “otherness”nya etnis Simalungun dari Batak Toba. 2 Otherness-nya Suku
bangsa Simalungun dengan Batak Toba Setelah membaca dan mendiskusikannya dengan
pemuka-pemuka adat/budaya Simalungun seperti Bapak Kadim Morgan Damanik (mantan
Ketua Umum Partuha Maujana Simalungun Perwakilan Kabupaten Simalungun) dan
Bapak Djaiman Saragih (Ketua Umum Madjelis Kebudajaan Simalungun Indonesia) dan
membaca uraian Bapak Tuan Djariaman Damanik. SH dalam surat-suratnya kepada
penulis dan membaca literatur asing dalam bahasa Belanda, Inggris, saya akan
menanggapi point-point saya yang Sdr bantah itu sebagai berikut : 2.1 Menurut
Sdr Napitupulu, Etnis Simalungun bukan berasal dari India Selatan karena tidak
mempunyai dasar sejarah yang sah.
Perlu Sdr ketahui dari data-data dan penelitian yang
dilakukan Bapak Djariaman Damanik, SH (mantan Kajati Sumut dan Bali) semuanya
mengarah ke India Selatan tepatnya di Nagore. Ini apalagi dikaitkan dengan adat
kebiasan, karakter dan anatomi tubuh keturunan raja-raja di Simalungun yang
berbeda dengan orang Batak Toba yang kemudian mengaku menjadi orang Simalungun
(seperti marga Saragih Simbolon, Sijabat, Manihuruk, Damanik Malau, Gurning,
Ambarita).
Penulis-penulis Belanda juga tidak menafikan kalau ada
keturunan raja-raja Simalungun yang berasal dari India Selatan. Dan satu lagi
apabila Sdr membaca disertasi Bapak Prof Dr Bungaran Simanjuntak, Konflik dan
Status Kekuasaan Orang Batak Toba (Yogyakarta, 2002), beliau dari hasil
penelitiannya mengatakan bahwa nenek moyang orang Batak besar kemungkinannya
berasal dari keturunan suku bangsa Munda dan Nagpur di India Selatan, dan
menilik adanya Kerajaan Nagur (di India ada kota “Nagpur”) di Simalungun yang
jelas merupakan kerajaan Hindu pertama di Sumatera Timur, makin menguatkan
pandangan beliau.
Prof Payung Bangun berpendapat adanya konsep raja (monarch)
di Simalungun yang berpola “tuan-hamba” berasal dari budaya India (Hindu) yang
mengenal “raj” sebagai perwakilan dewa di bumi yang menjamin keselarasan
hubungan antara dewa-dewa dengan manusia.
Di Simalungun konsep “raj” ini jelas kelihatan pada saat
sebelum masuknya zanding dan agama Islam, di mana raja-raja itu digelari dengan
“tuhanta” artinya pemilik kita. RW Liddle malah meyimpulkan, raja-raja
Simalungun itu dilihat sebagai representasi ilahi di bumi yang dianggap
memiliki kekuatan adikodrati.
Sampai saat ini, konsep pengormatan itu masih ada
sisa-sisanya di masyarakat Simalungun, yaitu pandangan orang Simalungun
terhadap tondong (Toba: hula-hula), tondong dianggap sebagai pemberi berkat
(tuah) yang wajib dihormati seperti nyata dalam kalimat, “Tondong pangalopan
podah, sanina pangalopan riah, boru pangalopan gogoh”.
Dalam upacara-upacara adat Simalungun asli, tondong ini
selalu berada di depan disambut oleh borunya dengan tarian yang khusyuk dan
takzim sampai menyentuh tanah dengan sikap menyembah ke arah tondong dengan
iringan gual Rambing-rambing Ramos sambil membawa persembahan kepada tondong
tanda penghormatan yang berupa uang yang ditaruh dalam piring putih bertutup
bulung tinapak dengan demban yang terdiri dari dua buah, satu untuk bapa dan
satu lagi untuk inang.
Dalam upacara kematian orangtua yang sudah “sayur matua”
semua kaum laki-laki mengikatkan gotong porsa di kepalanya masing-masing yang
bermakna, “keikhlasan keluarga dan orang yang hadir untuk memberangkatakan
almarhum.” Di Sumatera Utara ini hanya pada suku Simalungun yang mempunyai adat
seperti itu.
Adat ini jelas dari India (Hinduisme), karena sampai
sekarang orang Bali Hindu juga masih memakai porsa kalau bersembahyang di pura.
Ada memang beberapa kebiasaan dari Siam yang terbawa ke Simalungun seperti
“manurduk dayok na binatur” yang sekarang masih ditemukan di Laos. Ini dibawa
oleh sebagian nenek moyang suku Simalungun yang berasal dari sana.
Jelasnya, suku Simalungun berketurunan dari beragam nenek
moyang, bukan dari satu keturunan, yang semuanya ada yang berasal dari India
Selatan dan dari Siam.
Ada yang masuk dari pantai timur, dan juga dari pantai barat
melalui Aceh (menyusuri sungai Simpang Kanan di Singkel terus ke Pakpak, Tanah
Karo dan akhirnya masuk ke Simalungun).
Groeneveldt menulis dari tulisan Ying Yai Shenglan pusat
kerajaan Nagur pernah berada di Pidie sekitar abad XIV. Batrlett (1952:633)
menulis sebagaimana dikutip Arlin Dietrich (2003:13) bahwa nenek moyang orang
Simalungun pada awalnya berkedudukan di pesisir pantai timur dan akibat desakan
dari populasi orang Melayu dari Semenanjung Melayu yang mendirikan kesultanan
Melayu berpindah ke pedalaman sampai mencapai pantai Danau Toba.
Dan sampai sekarang pun penduduk Melayu di Serdang dan Deli
masih ada yang mengakui kalau nenek moyangnya berketurunan dari suku
Simalungun.
Itulah sebabnya keempat marga itu bisa saling mengawini
karena berbeda nenek moyang. Dan di Simalungun adat yang melarang kawin semarga
itu masih ketat sekali dipegang.
Orang yang kawin semarga itu dihukum oleh huta karena
dianggap mardawan begu. Oleh karena itu, dari jalan sejarahnya Simalungun,
penduduk yang menjadi etnis Simalungun sekarang ini secara garis besarnya
terdiri dari dua keturunan nenek moyang, yakni Proto Simalungun (Simalungun
Tua) yang merupakan keturunan raja-raja Simalungun yang berasal dari India
Selatan dan Siam yang menurunkan marga-marga raja di Simalungun yakni : Sinaga,
Saragih, Damanik dan Purba yang pada awalnya tanpa lineage (cabang marga/sub
sib) dan keturunan kedua Deutero Simalungun (Simalungun Muda) yang secara umum
berketurunan dari Samosir dan Toba yang zaman dahulu sewaktu raja-raja masih
ada, menyesuaikan marganya dengan marga raja-raja yang sepengetahuan mereka di
Toba Samosir ada kaitannya agar menjadi rakyat Simalungun (paruma ni harajaan
Simalungun).
Mereka ini memakai adat, bahasa dan budaya Simalungun dan
bahkan ada di antaranya yang diangkat menjadi yang dipertuan (parbapaan) di
Simalungun seperti Tigaras oleh marga Saragih Turnip dan Silampuyang oleh marga
Saragih Sidauruk.
Sekarang ini pun di Bosar Maligas dan Tanah Jawa masih ada
yang berketurunan dari marga Butara-butar, Sitorus dan Sirait yang mengaku
dirinya suku Simalungun karena mereka sudah beberapa generasi tinggal di
Simalungun dan memakai bahasa, adat dan budaya Simalungun dalam kesehariannya.
Nenek moyang mereka dahulu sudah berjanji dengan sumpah
(marbulawan) di hadapan raja Tanoh Jawa bermarga Sinaga untuk menjadi paruma ni
Harajaan Tanoh Djawa. Sedangkan marga Silalahi, Sitopu dan Sipayung pada zaman
raja-raja memasuki marga Sinaga.
Persoalan kependudukan ini masih berlangsung terus sampai
zaman Belanda, di mana pada tahun 1930 pendatang dari Tapanuli menuntut agar
pada mereka diangkat pemimpin sendiri (hoofd der Tobanezen), karena pendatang
dari Tapanuli ini tidak bersedia di bawah kekuasaan raja-raja Simalungun.
Tetapi ini tidak lama, karena raja-raja Simalungun merasa
dilecehkan, sehingga mereka mengadukan persoalannya kepada pemerintah tinggi di
Batavia. Dan akhirnya kedudukan mereka dikembalikan, seluruh pendatang wajib
menaati hukum pemerintahan kerajaan.
Barulah setelah raja-raja itu dibantai dalam aksi revolusi
sosial 3 Maret 1946, ada kebebasan penuh kepada para pendatang dan foedalisme
pun hapus di Simalungun. 2.2 Mengenai posisi dan pengertian raja di Toba dan
Simalungun sebenarnya sangat jauh perbedaanya.
Mengenai hal ini, saya anjurkan agar Sdr Napitupulu membaca
kertas kerja dari Pdt. Dr. S.M. Siahaan yang berjudul, “Peranan dan Kedudukan
Raja dalam Struktur Suku dan Masyarakat Batak Toba” dalam Buletin STT HKBP
Vocatio Dei VIII (April-Juni 1984) hal. 25-36. Saya kutip saja sebagian,
“…..disimpulkan oleh AB Sinaga bahwa pengertian “raja” dalam masyarakat Batak
Toba berbeda jauh dengan segala ide yang mengelilingi kata ini dalam bahasa
Indonesia. Dijelaskannya perbedaan pengertian ini dengan pemakaian ungkapan :
“raja disi, raja dison, samasama raja”.
Dengan demikian, pengertian raja berarti bukan hamba atau
“ndang hatoban.” Sebagai akibat dari sistim perkampungan yang tertutup, maka
setiap kampung tidak tergantung kepada seorang raja yang administratif dan
feodal” (hal 26). Akan halnya Raja Sisingamangaraja dalam kajian para sejarawan
seperti diungkapkan Castles dalam disertasinya, “…hanyalah sekedar pendeta
tertinggi dalam moitie kelompok Sumba yang mencakup marga Ompu Pulobatu, yaitu
marga Sinambela” marga dinasti Sisingamangaraja bukan seorang raja sebagaimana
pengertian ketetanegaraan modern.
Karena itulah dalam disertasi Dr. Lance Castles yang sudah
diterjemahkan bejudul Tapanuli (2001:13) ia jelas menerangkan, “Sebelum masa
kolonial masyarakat Batak Toba hampir tidak mengenal negara (stateless).
Penduduk kampung tinggal di kampung-kampung yang disebut
huta. Dan untuk kelancaran administrasi pemerintahan di Tapanuli, Belanda
kemudian mengangkat kepala-kepala kampung menjadi pemimpin dengan pangkat
“radja ihoetan” dan “kapala nagari”, sedangkan di Mandailing dengan “kapala
kuria.
Akan halnya di Simalungun, berbeda jauh dengan masyarakat
Tapanuli. Dalam disertasi Wolfgang Clauss, Economic and Social Change among the
Simalungun Batak of North Sumatra (1982:48), beliau menjelaskan: “Of all Batak
people, only the Simalungun had developed political structure that resembled a
form of state. Before the coming of the Dutch, several small kingdoms headed by
radjas exixted in Simalungun, but these lacked both clearly defined territorial
boundaries and internal coherence. …..the radja’s direct rule was limited to
his capital (pematang) and neighboring villages.” Dalam sejarah Simalungun
kerajaan tertua di Sumatera Timur adalah Kerajaan Parpandanan Na Bolag (sekitar
abad V) yang kemudian disebut Nagur yang bertentangga dengan Haru (cikal bakal
Kesultanan Deli) dan Gasip (cikal bakal Kesultanan Siak).
Nagur dengan dinasti Damanik kemudian pecah menjadi Raja
Maroppat sekitar abad XIV (Panei, Silou, Tanoh Djawa dan Siantar). Setelah
ditekennya Korte Verklaring oleh raja-raja Simalungun, partuanan banggal Purba,
Raya dan Silimahuta yang semula daerah vassal dari Panei dan Silou diangkat
statusnya menjadi kerajaan. Sehingga sampai revolusi sosial tahun 1946 ada
tujuh kerajaan di Simalungun.
Masing masing mempunyai pola pemerintahan yang sama yang
disebut Sioppat Suhu dengan harajaan sebagai kabinetnya dan sub ordinat
partuanan dan parbapaan sampai kepada pangulu dengan masing-masing gamot
(pejabat pemerintah) yang dikendalikan dari pusat pemerintahan yang disebut
“pamatang” (bukan pematang).
Menurut J.R. Hutauruk, satu-satunya hanya ada di Simalungun.
2.3 Bahasa Simalungun. Sdr Napitupulu menyimpulkan, sebenarnya tidak ada
perbedaan yang mencolok sekali antara bahasa Simalungun dengan bahasa Batak
Toba dan tidak ada kedekatan antara bahasa Simalungun dengan bahasa Sansekerta.
Apa yang saudara ketahui itu adalah pengetahuan orang awam,
mereka yang tidak paham dan kenal betul sejarah, struktur, grammatikal bahasa
dan jiwa serta vokabulari bahasa Simalungun asli (karena dari daftar kata yang
saudara tulis itu ada banyak kata yang bukan termasuk bahasa Simalungun asli
dalam hal ini bahasa ibu saya bahasa Simalungun Sin Raya bahasa asli
Simalungun).
Dan untuk itu ada baiknya saudara membaca karya pakar bahasa
dan aksara Batak Dr Uli Kozok yang berjudul, Warisan Leluhur: Sastra Lama dan
Aksara Batak (KPG-Jakarta, 1999). Dan disertasi Prof Hendry Guntur Tarigan,
Morfologi Bahasa Simalungun yang berhasil dipertahankannya di Fakultas Sastra
Unibersitas Indonesia Jakarta pada tanggal 5 Juni 1979).
Tetapi untuk lebih jelasnya saya akan merangkumkannya
sebagai berikut : Memang benar, bahwa pada zaman zending, anggapan umum selalu
mengkaitkan etnis Simalungun berasal dari Samosir (Toba) dan bahasanya hanyalah
dialek saja dari bahasa Batak Toba.
Itulah sebabnya bahasa dan kebiasaan di Tapanuli diterapkan
di Simalungun oleh para zendeling Jerman yang mahir dalam adat dan bahasa Batak
Toba. Sejak ketibaan Injil di Simalungun, bahasa Batak Toba-lah yang menjadi
bahasa Gereja dan Pendidikan di Simalungun.
August Theis, Guillaume dan Meissel sebagai pionir zending
Kristen di Simalungun bukanlah orang yang paham dan menguasai bahasa
Simalungun. Mereka bersama pembantunya dari penginjil Batak Toba selalu
berkomunikasi dalam bahasa Batak Toba dalam mengabarkan Injil.
Dalam sejarah hanya Simon-lah yang pertama sekali
menganjurkan pemakaian bahasa Simalungun dalam mengabarkan Injil kepada
pembantu-pembantunya dari Toba dalam mengabarkan Injil di Bandar pada tahun
1905.
Simon-lah orang Jerman pertama yang sadar akan perbedaaan
yang sangat mencolok antara bahasa Batak Toba dengan Simalungun. Dan karena
“kesalahan” inilah sehingga zending RMG “tidak sukses” mengkristenkan orang Simalungun.
Barulah sejak Pdt. J. Wismar Saragih (oppung-nya Jan Wiserdo
Saragih) menjadi “oposan” bagi zending RMG dan kaum Kristen Batak Toba dalam
memperjuangkan harkat, martabat suku Simalungun, bahasa dan budaya Simalungun
kembali pada tempatnya semula, menjadi tuan di rumahnya di Tanoh Simalungun.
Sebagai seorang Simalungun yang bertahun-tahun tinggal di
Tapanuli, beliau paham benar bahwa ada banyak kata-kata dalam bahasa Simalungun
dan Batak Toba yang sama bunyinya tetapi berbeda artinya. Tidak saya cantumkan
di sini karena akan terlalau panjang.
Kesemuanya ini sudah ia daftarkan (ada 200 buah) dan
dipublikasikan di Sinalsal No. 52/Juli/1935. Dan sejak didirikannya Comite Na
Ra Marpodah 1928, pertumbuhan orang Simalungun yang menjadi Kristen berlipat
ganda, itu disebabkan pemakaian adat, budaya dan bahasa Simalungun dalam proses
penginjilan.
Pangulu Balei Djaudin Saragih sebagai pejabat pemerintah
sampai mengancam guru-guru Toba yang masih ngotot memakai bahasa Batak Toba
akan mengadukannya ke Kerapatan Bolon Raja-raja Simalungun agar dihukum
penjara. Dan sejak itu makin surutlah pengaruh bahasa Toba di gereja-gereja
Simalungun dan akhirnya hilang sama sekali.
Nah itulah sebentuk perlawanan orang Simalungun tempo doeloe
terhadap pandangan inferiornya orang Toba terhadap orang Simalungun sebagaimana
dalam pandangan Sdr Napitupulu.
Baiklah kita kembali pada persoalan semula. Menurut ahli
bahasa Dr Uli Kozok, bahasa Simalungun adalah bahasa tersendiri yang berdiri di
antara bahasa-bahasa Batak (sebab tidak ada bahasa Batak yang tunggal secara
ilmiah). Saya kutip selengkapnya : “Kelima suku Batak memiliki bahasa yang satu
sama lain mempunyai banyak persamaan.
Namun demikian, para ahli bahasa membedakan sedikitnya dua
cabang bahasa-bahasa Batak yang perbedaannya begitu besar, sehingga tidak
memungkinkan adanya komunikasi antara kedua kelompok tersebut.
Bahasa Angkola, Mandailing dan Toba membentuk rumpun
selatan, sedangkan bahasa Karo dan Pakpak Dairi termasuk rumpun utara. Bahasa
Simalungun sering digolongkan sebagai kelompok ketiga yang berdiri di antara
rumpun utara dan rumpun selatan (demikian juga pandangan Dr. P. Voorhoeve),
namun menurut ahli bahasa Adelaar (1981) secara historis bahasa Simalungun
merupakan cabang dari rumpun selatan yang berpisah dari cabang Batak Selatan
sebelum bahasa Batak Toba dan Angkola-Mandailing terbentuk.
Nah untuk lebih jelasnya Sdr Napitupulu agar membaca buku
Dr. Uli Kozok tersebut di hal. 14. 2.4 Pengaruh India/Sansekerta melalui
Djawa-Hindu dan Pagaruyung pada suku bangsa Simalungun. Tideman, Tichelman dan
Dr. P. Voorhoeve sebagai sarjana-sarjana Belanda mengakui bahwa suku Simalungun
sangat dipengaruhi oleh India/Hinduisme.
- Pertama, sistem pemerintahan monarkinya Simalungun jelas
merupakan adaptasi dari budaya India dengan “raj”nya yang menggolongkan
masyarakat Simalungun dalam tiga kelas: partongah (high class), paruma (middle
class) dan jabolon/hatoban (lowest class). Bandingkan dengan brahmana, vaisja
dan sudra di India.
- Kedua, gual (kesenian asli) Simalungun yang sangat dekat
dengan India, khususnya “inggou sarunei”. Sebagai seorang seniman Simalungun,
yang dapat memainkan gonrang dan sarunei Simalungun, saya merasakan kalau seni
musik Simalungun asli ini punya punya nilai seni yang khas dan daya “magic”
tinggi, dan saya lihat ada banyak persamaan iramanya dengan irama tradisional
India dan juga Thailand (saya pernah bermain musik tradisional dengan rombongan
mahasiswa dari Universitas Thaksin dari Chiang Mai).
- Ketiga, upacara penabalan dan pemakaman raja-raja Simalungun
tempo doeloe (masih ada microfilimnya di Leiden), sangat dekat dengan upacara
penabalan dan pemakaman di India dan jauh beda dengan Batak Toba. Upacaranya
agung, khidmat dan penuh dengan nilai-nilai kesakralaan dan dengan protokoler
yang rumit serta khas. Untuk ini ada baiknya memang saudara membaca karya Dr.
Harry Parkin, Batak Fruit and Hindu Thought (Madras, 1978).
- Keempat, bahasa Simalungun, jelas dipengaruhi bahasa
Sansekerta atau Pallawa (India Selatan), hanya pada etnis Simalungun ada akiran
ei, ou, ah, dan huruf penutup g, d yang oleh Dr. P. Voorhoeve diterangkannya
merupakan bahasa bona-bona dari satu bahasa purba (proto language), di Karo dan
Toba, huruf penutup ini hilang, karena semakin menjauh dari bahasa induknya.
Yang uniknya, seperti diterangkan Dr. P. Voorhoeve, ada kata
yang sama dalam bahasa Simalungun tetapi apabila huruf penutup dan akhirannya
berbeda, maka artinya juga sudah berbeda. Contoh, “balog” artinya
“perbatasan/boundaries”, “balok” artinya, “kayu gelondongan” , “dokdok”
artinya, “cabut” seperti dalam sebaris kalimat Pustaha Tuan Bandar Hanopan
tentang cerita Kerajaan Silou, “dokdok ma urat ni padang silah on, anggo
idokdok ho taridah ma jambulan ni panakboru puteri Ijou”, “dokdog” artinya
“bulir padi yang kosong/Toba: lapung”, “pusog” artinya “pusar manusia”, “pusok”
artinya bisa “lang siat be/rapat” dan “berdukacita” , “parah” artinya “orang
yang sakit”, “para” artinya “tempat perkakas di dapur”, “rub” artinya “bunyi
kayu tumbang”, “rup” artinya bersama-sama, “pak” artinya suara benda jatuh,
“pag” artinya “berani”.
Di Simalungun ada terdapat bahasa tinggi mirip dengan bahasa
Jawa Ngoko dan Jawa Inggil pada etnis Jawa. Menurut ahli bahasa Voorhoeve,
bahasa ini hanya terdapat pada suku Simalungun dan sedikit pada suku Karo. Ini
disebabkan struktur masyarakat Simalungun yang berpola “monarki feodalistis”,
zaman dahulu seluruh percakapan dengan raja punya pola tersendiri yang rumit
jauh beda dengan bahasa “awam” Simalungun sekarang ini.
Untuk berbicara dengan raja, sipembicara harus menyebut raja
“tuhanta”, permaisuri (puangbolon) dengan “lai” atau “lani”. Saya kutip
sepenggal kalimat dalam Pustaha Parpandanan Na Bolag, “Ou, amang umbei-umbei,
pardja do lai ham?” Marsampang homai ma guru ondi, “Ou amang pardusun, ulang
ihatahon ham au amang umbei-umbei, dong do lai goranku Guru Langgam Banua
Holing, hunjai ni Si Lindung do anggo ahu, hun tanoh Batang Toru, jayu silopak
ulu, dapot do hubahen mardaras mardorus bulungni torop salih menjadi begu.” Di
Simalungun dan Karo untuk menyapa orang yang lebih tua dengan kata “ham/kam”,
sedangkan untuk di bawah tingkatan/sederajat dengan kata “ho.”
Tetapi dibanding Karo, Simalungun masih punya “kekhususan”.
“Apabila ada orang tua melemparkan pertanyaan kepada kita (yang lebih rendah),
pamali apabila dijawab dengan “alo” (Toba” “olo”), karena akan dianggap
menghina, karenanya harus dijawab dengan “eak Atturang” atau “eak dahkam”,
demikian juga apabila menyebut lebih dari satu orang harus “nasiam” kepada yang
lebih tua dan “hanima” atau “handian” kepada yang lebih muda/sederajat.
Singkatnya, bahasa prokem di Simalungun itu ada dan rumit,
ini tidak ada di Toba. Mengenai keterkaitan Hinduisme dengan Simalungun saya
kutip tulisan Arlin Diertrich (2003:18-19), “istilah “Jawa” ….mengacu ke Pulau
Jawa atau ….berkaitan dengan kata “Jau” dan dengan demikian mengacu pada “orang
asing”.
Legenda sehubungan dengan berdirinya Kerajaan Tanoh Djawa
ini mengisahkan seorang pangeran dari Djawa atau “Djawa Silepahipoen”
(orang-orang Djawa bergigi putih”. Nama yang terakhir ini mendorong Tideman
untuk meyakini bahwa para penguasa Tanoh Djawa ada kemungkinan berasal dari
Tanah Minangkabau atau campuran antara Jawa-Minangkabau.”
Selanjutnya dijelaskan Arlin lagi, “…peninggalan budaya di
Simalungun seperti anisan (tiang kubur) dan bangunan suci tertutup yang zaman
dahulu yang berfungsi sebagai kuil pemujaan (dahulu banyak terdapat di Dolog
Sinumbah-Pardagangan, penelitian Martua Radja Siregar) membuktikan keberadaan
unsur pengaruh Djawa Hindu.
Unsur pengaruh Djawa-Hindu juga dijumpai dalam konsep
pemerintahan raja dan istana yang jauh lebih berkembang di wilayah Simalungun
dibandingkan dengan suku-suku Batak lainnya. Makanya tidak mengherankan apabila
Arlin menulis, “…seorang rekan warga India yang kebetulan berkunjung ke
Sumatera Utara melontarkan pendapatnya bagaimana ia merasa seperti berada di
kampung halamannya sendiri, karena banyaknya, “hal-hal yang berbau India” yang
ia jumpai di daerah ini.
Sebagai penutup, saya kutip tulisan Edwin M. Loeb dalam
bukunya, Sumatra: Its History and People (1990:20), “The Bataks were influenced
to a considerable extent by Hindu civilization. Direct Hindu influence is said
by the natives themselves to have come from the east (Timur/Simalungun). The
more important Hindu traits imported into the Batak country were wet rice
culture, the horse (”batak”=penunggang kuda), the plow, the peculiar style of
dwelling, chess, cotton and the spinning wheel, Hindu vocabulary, system of
writing (dari aksara Pallawa-India Selatan) and religious ideas.
Tulisnya lagi, “Of more practical importance was the
influence exerted by the Hindus among the Timur (Simalungun) and Karo Bataks
toward state formation. The Timur (Simalungun) district ruled by radjas and
their families are the only large territorial units” (hal. 38).
Kesimpulan
- Menilik perjalanan sejarah suku bangsa Simalungun, nenek
moyang suku bangsa Simalungun asli yang menurunkan marga Sinaga, Saragih,
Damanik dan Purba (Sansekerta: “Naga”, “Ragih”, “Manik” dan “Purba”) jelas
tidak benar berasal dari Toba Samosir melainkan dari keturunan sekelompok
pengembara dari India Selatan (Nagore) yang mendirikan Kerajaan Nagur dinasti
Damanik Nagur (500-1295) dan Siam (yang leluhurnya mendirikan Kerajaan Panei,
Silou, Tanoh Djawa dan Siantar) yang masuk ke Simalungun via Aceh dan pantai
Sumatera Timur. Pada abad ke-15 secara bertahap (bnd. teori sungsang) terjadi
perpindahan antara masyarakat Simalungun ke Samosir (legenda sappar) dan
menurunkan marga Sinaga, Manik, Purba dan Saragi (menurut sebutan orang
Samosir) atau sebaliknya bermigrasi ke Simalungun dan memasuki marga raja-raja
tersebut agar dapat memperoleh tanah di Simalungun. Jelasnya, di Simalungun ada
dua keturunan nenek moyang, yaitu : Simalungun Tua (Proto Simalungun) dan
Simalungun Muda (Deutro Simalungun).
- Bahasa dan aksara Simalungun berawal dari bahasa tua
(Sansekerta/Pallawa) di India Selatan yang bercampur dengan bahasa Melayu Tua.
Sedangkan, aksara Simalungun (surat sapuluhsiah) berasal dari aksara Pallawa
yang menurut penelitian Dr Uli Kozok bermula di Padang Lawas (Mandailing) dari
sana ke Simalungun kemudian ke Toba dan Dairi dan berakhir di Karo.
- Kebudayaan dan adat istiadat Simalungun asli banyak
merupakan duplikasi adat dan budaya di India Selatan dan Siam yang pada abad ke
XIII dan XIV akibat invasi Singosari dan Madjapahit budaya Jawa-Hindu turut
menanamkan pangaruhnya. Pengaruh Melayu Islam dan Aceh masuk kemudian mulai
abad XV dan XVIII dan budaya Eropa melalui zending RMG masuk pada permulaan
abad XX.
- Mengingat banyaknya unsur budaya dan keturunan yang masuk
ke Simalungun, sehingga etnis Simalungun tercatat merupakan etnis yang terbuka
dengan pendatang (sehingga etnis Simalungun hanya + 20 % saja dari penduduk
Kabupaten Simalungun sekarang dan toleransinya tinggi, sepanjang kepentingan
dan harkat martabatnya tidak diutak-atik. Sebab suku Simalungun hidup dalam
Habonaron do Bona yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan. D. Penutup
Demikianlah tanggapan saya atas bantahan Sdr Gunawan Napitupulu seorang etnis Batak
Toba; yang menurut saya cukup “berani” menjelaskan eksistensi suku bangsa
Simalungun.
Koentjaraningrat begawan antropolog itu menulis,
“yang dapat menjelaskan persis ekesistensi suatu suku bangsa adalah suku bangsa
itu sendiri, bukan orang lain.” Salam Habonaron do Bona. Penulis adalah pendeta
GKPS dan Pengurus Presidium Partuha Maujana Simalungun di Seksi Sejarah,
tinggal di tepian Danau Toba, Tongging Taneh Karo Simalem. Pamatangsiantar, 29
Februari 2006
Tulisan ini dikutip dari:
http://www.limbongmulana.com/detail-500018-simalungun-bukan-batak.html