Rabu, 09 September 2015

Lagi, Asal – Usul Simalungun

Suku Simalungun atau juga disebut Batak Simalungun adalah salah satu suku asli dari provinsi Sumatera Utara, Indonesia, yang menetap di Kabupaten Simalungun dan sekitarnya. Beberapa sumber menyatakan bahwa leluhur suku ini berasal dari daerah India Selatan. Sepanjang sejarah suku ini terbagi ke dalam beberapa kerajaan. Marga asli penduduk Simalungun adalah Damanik, dan 3 marga pendatang yaitu, Saragih, Sinaga, dan Purba. Kemudian marga marga (nama keluarga) tersebut menjadi 4 marga besar di Simalungun.
Orang Batak menyebut suku ini sebagai suku “Si Balungu” dari legenda hantu yang menimbulkan wabah penyakit di daerah tersebut, sedangkan orang Karomenyebutnya Timur karena bertempat di sebelah timur mereka.
Asal-usul
Terdapat berbagai sumber mengenai asal usul Suku Simalungun, tetapi sebagian besar menceritakan bahwa nenek moyang Suku Simalungun berasal dari luarIndonesia.
Kedatangan ini terbagi dalam 2 gelombang 
[1]:
1.       Gelombang pertama (Simalungun Proto ), diperkirakan datang dari Nagore (India Selatan) dan pegunungan Assam (India Timur) di sekitar abad ke-5, menyusuri Myanmar, ke Siam dan Malaka untuk selanjutnya menyeberang ke Sumatera Timur dan mendirikan kerajaan Nagur dari Rajadinasti Damanik.
2.       Gelombang kedua (Simalungun Deutero), datang dari suku-suku di sekitar Simalungun yang bertetangga dengan suku asli Simalungun.
Pada gelombang Proto Simalungun di atas, Tuan Taralamsyah Saragihmenceritakan bahwa rombongan yang terdiri dari keturunan dari 4 Raja-raja besar dari Siam dan India ini bergerak dari Sumatera Timur ke daerah Aceh, Langkat, daerah Bangun Purba, hingga ke Bandar Kalifah sampai Batubara.
Kemudian mereka didesak oleh suku setempat hingga bergerak ke daerah pinggiran danau Toba dan Samosir.
Pustaha Parpandanan Na Bolag (pustaka Simalungun kuno) mengisahkan bahwaParpandanan Na Bolag (cikal bakal daerah Simalungun) merupakan kerajaan tertua di Sumatera Timur yang wilayahnya bermula dari Jayu (pesisir Selat Malaka) hingga ke Toba. Sebagian sumber lain menyebutkan bahwa wilayahnya meliputiGayo dan Alas di Aceh hingga perbatasan sungai Rokan di Riau.
Kini, di Kabupaten Simalungun sendiri, Akibat derasnya imigrasi, suku Simalungun hanya menjadi mayoritas di daerah Simalungun Atas.
 Kehidupan masyarakat Simalungun
Sistem mata pencaharian orang Simalungun yaitu bercocok tanam dengan padidan jagung, karena padi adalah makanan pokok sehari-hari dan jagung adalah makanan tambahan jika hasil padi tidak mencukupi. Jual-beli diadakan dengan barter, bahasa yang dipakai adalah bahasa dialek. “Marga” memegang peranan penting dalam soal adat Simalungun. Jika dibandingkan dengan keadaan Simalungun dengan suku Batak yang lainnya sudah jauh berbeda.
Bahasa & Aksara
Suku Simalungun menggunakan Bahasa Simalungun (bahasa simalungun:hata/sahap Simalungun) sebagai bahasa Ibu. Derasnya pengaruh dari suku-suku di sekitarnya mengakibatkan beberapa bagian Suku Simalungun menggunakan bahasa Melayu, Karo, Batak, dan sebagainya. Penggunaan Bahasa Batak sebagian besar disebabkan penggunaan bahasa ini sebagai bahasa pengantar oleh penginjil RMG yang menyebarkan agama Kristen pada Suku Ini.
Aksara yang digunakan suku Simalungun disebut aksara Surat Sisapuluhsiah.
Kepercayaan
Bila diselidiki lebih dalam suku Simalungun memiliki berbagai kepercayaan yang berhubungan dengan pemakaian mantera-mantera dari “Datu” (dukun) disertai persembahan kepada roh-roh nenek moyang yang selalu didahului panggilan kepada Tiga Dewa yang disebut Naibata, yaitu Naibata di atas (dilambangkan dengan warna Putih), Naibata di tengah (dilambangkan dengan warna Merah), danNaibata di bawah (dilambangkan dengan warna Hitam). 3 warna yang mewakili Dewa-Dewa tersebut (Putih, Merah dan Hitam) mendominasi berbagai ornamen suku Simalungun dari pakaian sampai hiasan rumahnya.
Orang Simalungun percaya bahwa manusia dikirim ke dunia oleh naibata dan dilengkapi dengan Sinumbah yang dapat juga menetap di dalam berbagai benda, seperti alat-alat dapur dan sebagainya, sehingga benda-benda tersebut harus disembah. Orang Simalungun menyebut roh orang mati sebagai Simagot. Baik Sinumbah maupun Simagot harus diberikan korban-korban pujaan sehingga mereka akan memperoleh berbagai keuntungan dari kedua sesembahan tersebut.
Harungguan Bolon
Terdapat empat marga asli suku Simalungun yang populer dengan akronimSISADAPUR yaitu:
·         Sinaga
·         Saragih
·         Damanik
·         Purba
Keempat marga ini merupakan hasil dari “Harungguan Bolon” (permusyawaratan besar) antara 4 raja besar untuk tidak saling menyerang dan tidak saling bermusuhan (marsiurupan bani hasunsahan na legan, rup mangimbang munssuh).
Keempat raja itu adalah:
1.Raja Nagur bermarga Damanik
Damanik berarti Simada Manik (pemilik manik), dalam bahasa Simalungun, Manik berarti Tonduy, Sumangat, Tunggung, Halanigan (bersemangat, berkharisma, agung/terhormat, paling cerdas).
2 Raja Banua Sobou bermarga Saragih
Saragih dalam bahasa Simalungun berarti Simada Ragih, yang mana Ragihberarti atur, susun, tata, sehingga simada ragih berarti Pemilik aturan atau pengatur, penyusun atau pemegang undang-undang.
3.Raja Banua Purba bermarga Purba
Purba menurut bahasa berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Purwa yang berarti timur, gelagat masa datang, pegatur, pemegang Undang-undang, tenungan pengetahuan, cendekiawan/sarjana.
4.Raja Saniang Naga bermarga Sinaga
Sinaga berarti Simada Naga, dimana Naga dalam mitologi dewa dikenal sebagai penebab Gempa dan Tanah Longsor.
Marga-marga perbauran
Perbauran suku asli Simalungun dengan suku-suku di sekitarnya di Pulau Samosir, Silalahi, Karo, dan Pakpak menimbulkan marga-marga baru.
Selain itu ada juga marga-marga lain yang bukan marga Asli Simalungun tetapi kadang merasakan dirinya sebagai bagian dari suku Simalungun, seperti Lingga, Manurung, Butar-butar dan Sirait.
Perkerabatan Simalungun
Orang Simalungun tidak terlalu mementingkan soal silsilah karena penentupartuturan (perkerabatan) di Simalungun adalah hasusuran (tempat asal nenek moyang) dan tibalni parhundul (kedudukan/peran) dalam horja-horja adat (acara-acara adat). Hal ini bisa dilihat saat orang Simalungun bertemu, bukan langsung bertanya “aha marga ni ham?” (apa marga anda) tetapi “hunja do hasusuran ni ham(dari mana asal-usul anda)?”
Hal ini dipertegas oleh pepatah Simalungun “Sin Raya, sini Purba, sin Dolog, sini Panei. Na ija pe lang na mubah, asal ma marholong ni atei” (dari Raya, Purba, Dolog, Panei. Yang manapun tak berarti, asal penuh kasih).
Sebagian sumber menuliskan bahwa hal tersebut disebabkan karena seluruh marga raja-raja Simalungun itu diikat oleh persekutuan adat yang erat oleh karena konsep perkawinan antara raja dengan “puang bolon” (permaisuri) yang adalah puteri raja tetangganya. Seperti raja Tanoh Djawa dengan puang bolon dari Kerajaan Siantar (Damanik), raja Siantar yang puang bolonnya dari Partuanan Silappuyang, Raja Panei dari Putri Raja Siantar, Raja Silau dari Putri Raja Raya, Raja Purba dari Putri Raja Siantar dan Silimakuta dari Putri Raja Raya atau Tongging.
Adapun Perkerabatan dalam masyarakat Simalungun disebut sebagai partuturan. Partuturan ini menetukan dekat atau jauhnya hubungan kekeluargaan (pardihadihaon), dan dibagi kedalam beberapa kategori sebagai berikut:
·         Tutur Manorus / Langsung
Perkerabatan yang langsung terkait dengan diri sendiri.
·         Tutur Holmouan / Kelompok
Melalui tutur Holmouan ini bisa terlihat bagaimana berjalannya adat Simalungun
·         Tutur Natipak / Kehormatan
Tutur Natipak digunakan sebagai pengganti nama dari orang yang diajak berbicara sebagai tanda hormat.
Pakaian Adat
 Kain Adat Simalungun disebut Hiou. Penutup kepala lelaki disebut Gotong, penutup kepala wanita disebut Bulang, sedangkan yang kain yang disandang ataupun kain samping disebut Suri-suri.Sama seperti suku-suku lain di sekitarnya, pakaian adat suku Simalungun tidak terlepas dari penggunaan kain Ulos (disebut Uis di suku Karo). Kekhasan pada suku Simalungun adalah pada kain khas serupa Ulos yang disebut Hiou dengan berbagai ornamennya.
Ulos pada mulanya identik dengan ajimat, dipercaya mengandung “kekuatan” yang bersifat religius magis dan dianggap keramat serta memiliki daya istimewa untuk memberikan perlindungan. Menurut beberapa penelitian penggunaan ulos oleh suku bangsa Batak, memperlihatkan kemiripan dengan bangsa Karen di perbatasan Myanmar, Muangthai dan Laos, khususnya pada ikat kepala, kain dan ulosnya.
Secara legenda ulos dianggap sebagai salah satu dari 3 sumber kehangatan bagi manusia (selain Api dan Matahari), namun dipandang sebagai sumber kehangatan yang paling nyaman karena bisa digunakan kapan saja (tidak seperti matahari, dan tidak dapat membakar (seperti api). Seperti suku lain di rumpun Batak, Simalungun memiliki kebiasaan “mambere hiou” (memberikan ulos) yang salah satunya melambangkan pemberian kehangatan dan kasih sayang kepada penerima Hiou. Hiou dapat dikenakan dalam berbagai bentuk, sebagai kain penutup kepala, penutup badan bagian bawah, penutup badan bagian atas, penutup punggung dan lain-lain.
Hiou dalam berbagai bentuk dan corak/motif memiliki nama dan jenis yang berbeda-beda, misalnya Hiou penutup kepala wanita disebut suri-suri, Hiou penutup badan bagian bawah bagi wanita misalnya ragipanei, atau yang digunakan sebagai pakaian sehari-hari yang disebut jabit. Hiou dalam pakaian penganti Simalungun juga melambangkan kekerabatan Simalungun yang disebut tolu sahundulan, yang terdiri dari tutup kepala (ikat kepala), tutup dada (pakaian) dan tutup bagian bawah (abit).

Menurut Muhar Omtatok, Budayawan Simalungun, awalnya Gotong (Penutup Kepala Pria Simalungun) berbentuk destar dari bahan kain gelap ( Berwarna putih untuk upacara kemalangan, disebut Gotong Porsa), namun kemudian Tuan Bandaralam Purba Tambak dari Dolog Silou juga menggemari trend penutup kepala ala melayu berbentuk tengkuluk dari bahan batik, dari kegemaran pemegang Pustaha Bandar Hanopan inilah, kemudian Orang Simalungun dewasa ini suka memakai Gotong berbentuk Tengkuluk Batik.
https://bakkaranauli.wordpress.com/2012/03/08/asal-usul-batak-simalungun/

KERUNTUHAN MONARCHI SIMALUNGUN

KERUNTUHAN MONARCHI SIMALUNGUN
BANGUN DAN RUNTUHNYA KERAJAAN SIMALUNGUN SUMATERA TIMUR

Oleh: Erond Litno Damanik, M.Si

1.Pengantar.

Riwayat asal mula kerajaan Simalungun hingga kini belum diketahui pasti, terutama tentang kerajaan pertama yakni Nagur (Nagore, Nakureh). Demikian pula kerajaan Batanghiou serta Tanjung Kasau. Kehidupan kerajaan ini hanya dapat ditelusuri dari tulisan-tulisan petualang dunia terutama Marcopolo dan petualang dari Tiongkok ataupun dari hikayat-hikayat (poestaha partikkian) yang meriwayatkan kerajaan tersebut. Di zaman purba wilayah Simalungun mempunyai 2 buah kerajaan besar yaitu pertama kerajaan Nagur yang ada di dalam catatan Tiongkok abad ke-15 (“Nakuerh”) dan oleh Marcopolo tatkala ia singgah di Pasai tahun 1292 M. kerajaan besar itu menguasai wilayah sampai-sampai ke Hulu Padang-Bedagai dan Hulu Asahan. Kerajaan tua yang lain ialah Batangio yang terletak di Tanah Jawauri (Tanoh Jawa). Pada masa itu, kerajaan Simalungun dikenal dengan nama harajaon na dua (kerajaan yang Dua) Selanjutnya, diketahui bahwa pasca keruntuhan kerajaan Nagur, maka terbentuklah harajaon na opat (kerajaan Berempat) yaitu: Siantar, Tanoh Jawa, Panai dan Dolog Silau. Ke-empat kerajaan ini menjadi populer pada saat masuknya pengusaha kolonial Belanda, dimana tiga kerajaan yakni Tanoh Jawa, Siantar dan Panei bekerjasama dengan pengusaha kolonial dalam memperoleh perijinan tanah. Setelah masuknya Belanda terutama sejak penandatanganan perjanjian pendek (korte verklaring) maka tiga (3) daerah takluk (partuanan) Dolog Silau di naikkan statusnya menjadi kerajaan yang sah dan berdiri sendiri, yakni Silimakuta, Purba dan Raya. Pada saat itu, kerajaan di Simalungun dikenal dengan nama harajaon na pitu (kerajaan yang Tujuh). Simalungun Sumatera Timur.Akhir dari kerajaan Simalungun ini adalah terjadinya amarah massa pada tahun 1946 yang dikenal dengan revolusi Sosial. Sejak saat itu, peradapan rumah bolon (kerajaan) Simalungun punah selama-lamanya. Dengan uraian singkat diatas, penulis berkeinginan untuk menulis kembali sejarah berdiri dan hanucrnya kerajaan.Atas dasar inilah, penulis berkeinginan untuk mendeskripsikan kembali sejarah bangun dan hancurnya kerajaan Simalungun Sumatera Timur yang banyak diriwayatkan dalam sejarah Simalungun.

2. Tiga fase Kerajaan Simalungun.

Secara historis, terdapat tiga fase kerajaan yang pernah berkuasa dan memerintah di Simalungun. Berturut-turut fase itu adalah fase kerajaan yang dua (harajaon na dua) yakni kerajaan Nagur (marga Damanik) dan Batanghio (Marga Saragih). Berikutnya adalah kerajaan berempat (harajaon na opat) yakni Kerajaan Siantar (marga Damanik), Panai (marga Purba Dasuha), Silau (marga Purba Tambak) dan Tanoh Jawa (marga Sinaga). Terakhir adalah fase kerajaan yang tujuh (harajaon na pitu) yakni: kerajaan Siantar (Marga Damanik), Panai (marga Purba Dasuha), Silau (marga Purba Tambak), Tanoh Jawa (marga Sinaga), Raya (marga Saragih Garingging), Purba (marga Purba Pakpak) dan Silimakuta (marga Purba Girsang).Seperti yang dikemukakan diatas bahwa asal muasal kerajaan Simalungun tidak diketahui secara pasti terutama dua kerajaan terdahulu yakni Nagur dan Batanghiou. Sinar (1981) mengemukakan bahwa kerajaan Nagur telah ada dalam catatan Tiongkok abad ke-15 (“Nakuerh”) dan oleh Marcopolo tatkala ia singgah di Pasai tahun 1292 M. Kerajaan besar itu menguasai wilayah sampai ke Hulu Padang-Bedagai dan Hulu Asahan. Kerajaan tua yang lain ialah Batangio yang terletak di Tanah Jawauri (Tanoh Jawa). Kendati konsepsi raja dan kerajaan di Simalungun masih kabur, akan tetapi, Kroesen (1904:508) mengemukakan bahwa konsep raja dan kerajaan itu berasal dari orang Simalungun itu sendiri sebagai perwujudan otonomi kekuasaan yang lebih tinggi. Bangun dalam Saragih (2000:310) mengemukakan bahwa kata ‘raja’ berasal dari India yaitu ‘raj’ yang menggambarkan pengkultusan individu penguasa. Mungkin saja konsep itu terbawa ke Simalungun akibat penetrasi kerajaan Hindu-Jawa seperti Mataram lama pada masa ekspansi ke Sumatera Timur (Tideman,1922:58). Lebih lanjut dikemukakan bahwa pengaruh Hindu di Simalungun dapat diamati langsung dari bentuk peninggalan yang mencerminkan pengaruh Hindu-Jawa. Nama kerajaan Tanoh Djawa setidaknya telah mendukung argumentasi itu Menurut sumber Cina yakni Ying-yai Sheng-ian, pada tahun 1416, kerajaan Nagur (tertulis nakkur) berpusat di Piddie dekat pantai barat Aceh Dikisahkan bahwa raja nagur berperang dengan raja samudra (Pasai) yang menyebabkan gugurnya raja Samodra akibat panah beracun pasukan Nagur. Pemaisuri kerajaan Samodra menuntut balas dan setelah diadakannya sayembara, maka raja Nagur berhasil ditewaskan. Kendati demikian, sejarawan Simalungun sepakat bahwa lokasi ataupun pematang kerajaan Nagur adalah di Pematang Kerasaan sekarang yang berada dekat kota Perdagangan terbukti dengan adanya konstruksi tua bekas kerajaan Nagur dari ekskavasi yang dilakukan oleh para ahli (Tideman, 1922:51). Mengenai polemik tentang lokasi defenitif kerajaan Nagur pernah berada dekat Pidie (Aceh) dapat dijelaskan sebagai akibat luasnya kerajaan Nagur. Oleh karenanya, raja Nagur menempatkan artileri panah beracunnya pada setiap perbatasan yang rentan dengan invasi asing. Kerajaan Batanghio, tidak ditemukan tulisan-tulisan resmi tentang riwatnya maupun pustaha yang mengisahkan asal-usulnya. Hanya saja Tideman (1922) menulis dalam nota laporan penjelasan mengenai Simalungun. Oleh para cerdik pandai Simalungun, Batanghio pada awalnya dipercaya sebagai partuanon Nagur, akan tetapi karena kemampuannya dan karena luasnya kerajaan Nagur, maka status partuanon itu diangkat menjadi kerajaan. Pada tahun 1293-1295, kerajaan Nagur dan Batanghio diinvasi kerajaan Singasari dengan rajanya yang terkenal, Kertanegara.
selanjutnya...........
http://1simetri1.wordpress.com/2008/02/20/keruntuhan-monarchi-simalungun/
Parlindungan Damanik copas sebagian dari tulisan dibawah ini.............
Yth. Bapa Erond L. Damanik, M.Si
Dalam Tulisan terdapat :
…….Diyakini bahwa kerajaan ARU adalah kerajaan yang besar dan kuat sehingga dianggap musuh oleh kerajaan Majapahit. Hal ini dapat dibuktikan dari sumpah Amukti Palapa sebagaimana yang ditulis dalam kisah Pararaton (1966), yaitu: Sira Gajah Madapatih amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah mada: ”Lamun awus kalah nusantara isun amuktia palapa, amun kalah ring Guran, ring Seran, Tanjung Pura, ring HARU, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti Palapa”. Hal senada juga dikemukakan oleh Muh. Yamin dalam bukunya dengan judul ”Gajah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara ”(2005).
Demikian pula dalam hikayat ”Parpadanan Na Bolag” yang mengisahkan kerajaan ”Nagur” yakni kerajaan Batak Timur Raya. Dalam catatan pengembara asing, kerajaan ini sering disebut ”Nakur”, atau ”Nakureh” maupun ”Jakur”. Kerajaan ini, menurut M.O. Parlindungan dalam bukunya Tuanku Rao (1964) berdiri pada abad ke 6-12. Rajanya yang terkenal adalah Mara Silu yang oleh penulis Karo disebut bermarga Ginting Pase dan masyarakat Batak Timur Raya menyebut marga Damanik. Nama Mara Silu banyak disebut didalam ”Hikayat Raja-raja Pasai”, ”Sejarah Melayu”, dan ”Parpadanan Na Bolag” dan diyakini sebagai Raja Nagur dari Batak Timur Raya. Menurut catatan MOP dalam bukunya ”Tuanku Rao” sepenakluk Aceh terhadap ”Nagur”, Mara Silu dan laskar yang tersisa menghancurkan bandar Pase (Aceh) pada tahun 1285 dan masuk Islam serta berganti nama menjadi Malikul Saleh, Sultan Samudra Pase yang pertama. Sejak saat itu, kerajaan Nagur tidak lagi ditemukan dalam tulisan-tulisan selanjutnya…………..
Bisa diambil kesimpulan : Kalau Mara Silu berarti bermarga Damanik.
sepenakluk Aceh terhadap ”Nagur”,– Aceh yang dimaksud, dinasti siapa ?
Terima Kasih.
=====================
Dear Pak Damanik,
Samudra pasai, yang raja pertamanya adalah Malk Al Saleh (malikul Saleh) wafat pada 1290 sesuai batu nisanya. Jadi, pada saat itu, Nagur masih eksis. Bisa jadi, balas dendam Aceh ke sumatra Timur adalah pada saat Sultan Al-Qahar-II, Mengapa?. Tercatat bahwa sultan ini sering melakukan peperangan dengan kerajaan di luar pasai, termasuk ke Sumatra Timur. Ini terjadi pada awal abad 15.
Kerajaan Nagur Massab menurut perhitungan saya pada abad ke-15 ini sejalan dengan berdirinya harajaan na opat di Simalungun. Lagi pula, pada abad ke-15 ini, nama nagur sudah tidak ada di sebut lagi.
Masa penyerangan Iskandar muda terbesar adalah tahun 1612, yakni kehancuran Deli Tua. Disini juga, nagur sudah tidak ada.
Berdasarkan manuskrip partikkian bandar hanopan yang mengisahkan berdirinya Dolog Silau, bahwa Silau berdiri dimana raja silou kawin dengan panak boru nagur yang terakhir yakni pada abad-13.
Abad-abad inilah nagur diperirakan lenyap. Tapi, itupun masih perlu penyelidikan intensif.
Salam
Erond L. Damanik
http://pussisunimed.wordpress.com/2010/01/25/situs-sejarah-2/
Djaja Surapati Saragih Bani tulisan yang berjudul : Keruntuhan Monarchi Simalungun.........dstnya, oleh Erond L Damanik, iposting Parlindungan Damanik, dong kalimat "Akhir dari Kerajaan Simalungun ini adalah terjadinya amarah massa pada tahun 1946 yang dikenal dengan Revolusi Sosial". Sukkun2, ise do massa na marah on ? Rakyat inggot ni huta ai do ?
Parlindungan Damanik Copas sebagian ..... Mara Silu , Malikul Saleh, Sultan Samudra Pase , Raja Nakur
====================
Kesultanan Pasai, juga dikenal dengan Samudera Darussalam, atau Samudera Pasai, adalah kerajaan Islam yang terletak di pesisir pantai utara Sumatera, kurang lebih di sekitar Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara, Provinsi Aceh, Indonesia.

Belum begitu banyak bukti arkeologis tentang kerajaan ini untuk dapat digunakan sebagai bahan kajian sejarah.[1] Namun beberapa sejarahwan memulai menelusuri keberadaan kerajaan ini bersumberkan dari Hikayat Raja-raja Pasai,[2] dan ini dikaitkan dengan beberapa makam raja serta penemuan koin berbahan emas dan perak dengan tertera nama rajanya.[3]

Kerajaan ini didirikan oleh Marah Silu, yang bergelar Sultan Malik as-Saleh, sekitar tahun 1267. Keberadaan kerajaan ini juga tercantum dalam kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) karya Abu Abdullah ibn Batuthah (1304–1368), musafir Maroko yang singgah ke negeri ini pada tahun 1345. Kesultanan Pasai akhirnya runtuh setelah serangan Portugal pada tahun 1521.

Pembentukan awal

Berdasarkan Hikayat Raja-raja Pasai, menceritakan tentang pendirian Pasai oleh Marah Silu, setelah sebelumnya ia menggantikan seorang raja yang bernama Sultan Malik al-Nasser.[2] Marah Silu ini sebelumnya berada pada satu kawasan yang disebut dengan Semerlanga kemudian setelah naik tahta bergelar Sultan Malik as-Saleh, ia wafat pada tahun 696 H atau 1297 M.[4] Dalam Hikayat Raja-raja Pasai maupun Sulalatus Salatin nama Pasai dan Samudera telah dipisahkan merujuk pada dua kawasan yang berbeda, namun dalam catatan Tiongkok nama-nama tersebut tidak dibedakan sama sekali. Sementara Marco Polo dalam lawatannya mencatat beberapa daftar kerajaan yang ada di pantai timur Pulau Sumatera waktu itu, dari selatan ke utara terdapat nama Ferlec (Perlak), Basma dan Samara (Samudera).

Pemerintahan Sultan Malik as-Saleh kemudian dilanjutkan oleh putranya Sultan Muhammad Malik az-Zahir dari perkawinannya dengan putri Raja Perlak. Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malik az-Zahir, koin emas sebagai mata uang telah diperkenalkan di Pasai, seiring dengan berkembangnya Pasai menjadi salah satu kawasan perdagangan sekaligus tempat pengembangan dakwah agama Islam. Kemudian sekitar tahun 1326 ia meninggal dunia dan digantikan oleh anaknya Sultan Mahmud Malik az-Zahir dan memerintah sampai tahun 1345. Pada masa pemerintahannya, ia dikunjungi oleh Ibn Batuthah, kemudian menceritakan bahwa sultan di negeri Samatrah (Samudera) menyambutnya dengan penuh keramahan, dan penduduknya menganut Mazhab Syafi'i.[5]

Selanjutnya pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Malik az-Zahir putra Sultan Mahmud Malik az-Zahir, datang serangan dari Majapahit antara tahun 1345 dan 1350, dan menyebabkan Sultan Pasai terpaksa melarikan diri dari ibukota kerajaan
Relasi dan persaingan

Kesultanan Pasai kembali bangkit dibawah pimpinan Sultan Zain al-Abidin Malik az-Zahir tahun 1383, dan memerintah sampai tahun 1405. Dalam kronik Cina ia juga dikenal dengan nama Tsai-nu-li-a-pi-ting-ki, dan disebutkan ia tewas oleh Raja Nakur. Selanjutnya pemerintahan Kesultanan Pasai dilanjutkan oleh istrinya Sultanah Nahrasiyah.

Armada Cheng Ho yang memimpin sekitar 208 kapal mengunjungi Pasai berturut turut dalam tahun 1405, 1408 dan 1412. Berdasarkan laporan perjalanan Cheng Ho yang dicatat oleh para pembantunya seperti Ma Huan dan Fei Xin. Secara geografis Kesultanan Pasai dideskripsikan memiliki batas wilayah dengan pegunungan tinggi disebelah selatan dan timur, serta jika terus ke arah timur berbatasan dengan Kerajaan Aru, sebelah utara dengan laut, sebelah barat berbatasan dengan dua kerajaan, Nakur dan Lide. Sedangkan jika terus ke arah barat berjumpa dengan kerajaan Lambri (Lamuri) yang disebutkan waktu itu berjarak 3 hari 3 malam dari Pasai. Dalam kunjungan tersebut Cheng Ho juga menyampaikan hadiah dari Kaisar Cina, Lonceng Cakra Donya.[6]

Sekitar tahun 1434 Sultan Pasai mengirim saudaranya yang dikenal dengan Ha-li-zhi-han namun wafat di Beijing. Kaisar Xuande dari Dinasti Ming mengutus Wang Jinhong ke Pasai untuk menyampaikan berita tersebut.[6].....................
http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Samudera_Pasai
Erond L Damanik Pak Djaja Surapati Saragih: untuk selengkapnya tentang uraian 'Massa' disitu, dapat dibaca di Anthony Reid. 1992. The Blood of the People: Revolution and The End of Traditional Rule of Sumatera. (Sudah diterjemahkan ke bahasa Indoensia)........
Karles Hasiholan Sinaga Friendky Sejati = okelah lawei semoga tahan sama boru sinaga yang terkenal garang dan galaknya. sai horasma.
Siraja Batak itu ada, tapi perlu sebuah rekayasa untuk menyambung dengan Tarombo Toba.
Sabar mungkin dalam seminggu ini aku Publish. lagi ngerjain terjemahan dulu abis bahasa inggri aku kacau balau.
Erond L Damanik Coba dibaca seluruh buku toba na sae. Maka akan ketahuan bahwa, Sitor menulis buku itu dengan membentangkan sejarah mereka dari siraja batak hingga sm raja adalah segaris keturunan dengan sitor yang bermarga situmorang....
Karles Hasiholan Sinaga Ya Pak Erond L Damanik, dan dia juga buat Sinaga itu adeknya Situmorang (mencoba menghilangkan kesulungan kami Sinaga) Tapi sisi Positifnya Lontung dengan Pandeta Raja Sinaga nya tidak tunduk Pada SM Raja tapi diperhalus dia dengan Menghormati SMR.
Lumayan bisa dibanggakan Ompung saya itu, meski besok aku tetap kerja, tapi leluhurku boleh tahan juga.
Semua sejarah pastinya tidak boleh lepas dari kepentingan penulis, setidaknya perasaannya yang menggiring, seperti Sitor Situmorang. diateitupa.
Erond L Damanik Baca juga buku WB Sijabat tentang Ahu sisingamangaraja. Hal yang sama akan diketahui bahwa Sijabat mencoba mendamaikan SM Raja dengan Nomensen, walaupun kedua tokoh ini tak pernah damai. Maka buku itupun habis dimaki oleh Uli Kozok. Sejak saat itu, saya tak pakai buku Toba Na Sae dan buku Ahu Sisingamangaraja......
Erond L Damanik Tidak objektif..........
Karles Hasiholan Sinaga itu sebenarnya salah satu misteri Batak, mengenal tulisan tetapi kenapa sejarah tak tertulis (atau masih disimpa Barat), jadi sumber2 kita dari luar yang banyak dan ntah gimana juga kepentingan mereka. tapi ya setidaknya yang kita kembangkan adalah yang berguna untuk kesatuan kita, apakah kelak di bawah bayang2 nagur atau Batak atau apapun namanya.
Lalu hal yang sangat sulit mengembangkan pola pikir dan kebudayaan sesuai apa yang sudah dirancang oleh nenek moyang, meski akhirnya penyimpangan banyak terjadi. tapi itulah hidup penuh liku, jaya kemarin, habis besok, bangkit lagi kalau bisa kalau tak digantikan yang baru.
Parlindungan Damanik Uli Kozok , pernah membuka Blog Teori tentang Kerajaan Nagur di Simalungun dengan Nakur di Pidie ( Aceh ) oleh Rouffaer, Gerrit Pieter (1860-1928)http://www.historici.nl/Onderzoek/Projecten/BWN/lemmata/bwn1/rouffaer
===================
Teori yang menyamakan Kerajaan Nagur di Simalungun dengan Nakur di Pidie (Aceh) awalnya dikemukakan oleh Gerrit Pieter Rouffaer (1860-1920). Namun teori itu tidak pernah menjadi populer di kalangan sejarawan, dan ahli Simalungun Tideman dengan tegas menyatakan bahwa Rouffaer keliru. Apalagi Nakur itu dikatakan kerajaan yang sangat kecil dengan jumlah penduduk hanya sekitar 1000kk.

Belakangan ini bermunculan klaim seolah-olah Nagur pernah merupakan kerajaan besar di Sumatra Utara setara dengan Kerajaan Aru. Malahan dikatakan bahwa Nagur itu ramai disebut oleh para pengelana seperti Marco Polo, Ibn Battuta, dan Mendes Pinto. Ketika saya periksa sumber asli di perpustakaan, hasilnya kosong. Sampai sekarang saya belum mendapatkan rujukan yang menyebut Nagur atau Nakur.

Jadi bagaimanakah Nagur itu? Silakan ikut nimbrung di
http://ulikozok.com/?p=1
==========================
dicoba dengan terjemahan google translated

Rouffaer, Gerrit Pieter (1860-1928)

Rouffaer, Gerrit Pieter, ahli ilmiah serbaguna sehubungan dengan Hindia Belanda (Kampen 1860/07/07 - 1928/08/01 Den Haag). Rouffaer putra Benyamin, seorang kapten di angkatan laut pedagang, dan Johanna Susanna Bondam. Dia belum menikah.

Rouffaer kiri setelah sekolah tinggi pada tahun 1877 di Universitas Politeknik Delft mendaftar. Setelah dua tahun ia memutuskan studinya untuk insinyur pertambangan. Ada waktu perjalanan panjang seni melalui Eropa dan sebagian besar diri. Periode ini berakhir pada 1885 saat kakaknya, dengan siapa ia tinggal di Diepenveen, meninggal. Rouffaer memutuskan untuk pergi ke Hindia Belanda, mungkin untuk mengalihkan perhatian sendiri. Alasan lain tidak diragukan lagi kekagumannya Multatuli, yang tulisan-tulisannya ia telah bertemu di Delft. Akhir tahun 1885 ia tiba di Batavia. Segera dia dihadapkan dengan gosip India dan menggerutu. Dalam berbagai wawancara ia mencoba untuk pergi ke belakang penyebabnya. Banyak dari apa yang ia dengar, ia menulis dalam naskahnya dalam membaca gambar jelas buku harian idem, data berharga aman melalui India vastleggend histoire intime. Ini melihat ke latar belakang arti India ketidakpuasan dipimpin Rouffaer ini sangat meragukan ide-ide liberalnya kolonial. Dia bertanya-tanya apakah itu dibenarkan bahwa parlemen di Belanda ikut campur dalam urusan Indonesia. Sementara itu Rouffaer mulai untuk masyarakat India sangat tertarik bahwa rencana awalnya (setelah 8 bulan kembali ke Belanda untuk belajar melukis Belanda) di latar belakang adalah. Lagi dan lagi ia membuat keberangkatannya, sehingga tinggal di India ada akhirnya satu tahun lima. Ini juga merupakan dasar untuk karir masa depannya. Awalnya ditahan Rouffaer Havelaar yang bersangkutan dengan kasus ini. Dia mendokumentasikan dirinya benar-benar untuk ini, termasuk banyak percakapan dengan pejabat yang terlibat dalam kasus tadi. Sayangnya, ia tidak pernah menyelesaikan investigasinya. Catatannya dan studi yang diawetkan. R. Nieuwenhuys bersaksi dalam artikelnya 'Rouffaer dan Multatuli "betapa pentingnya bahan ini bahkan hari ini. Meskipun mengagumi Multatuli telah Rouffaer sebagai penulis, ia tidak buta terhadap kesalahan sebagai PNS. Terutama kurangnya empati dalam tradisi Banten ia diperhitungkan untuk Multatuli.

Selama 1886, Rouffaers perhatian ditarik oleh Hindu-Jawa antik. Dalam surat kepada Masyarakat Batavia Seni dan Ilmu Pengetahuan, misalnya, ia menjelaskan beberapa bas-relief Candi Borobudur dan Dieng di atas reruntuhan. Jika dia pergi ke Yogyakarta pada tahun 1887 ia menjadi lebih dan lebih tertarik pada negara-negara pertanian dari Kepangeranan, meskipun minatnya pada benda antik Jawa tidak pernah hilang. Untuk studi pertanian, ia membuat banyak salinan dari arsip lokal. Seperti yang dilakukannya dalam kasus Havelaar telah dilakukannya, ia mencoba lagi di pihak Indonesia dari hubungan kolonial di mana untuk hidup. Baru kemudian tahun, bagaimanapun, bahwa pada tahun 1905 hasil studinya di Bagian IV dari Ensiklopedia Hindia Belanda, yang diterbitkan di bawah 'Kepangeranan' kepala. Pada tahun 1931, karya inovatif dalam Adatrechtbundel dicetak ulang................................

http://www.historici.nl/Onderzoek/Projecten/BWN/lemmata/bwn1/rouffaer

Parlindungan Damanik Uli Kozok menyampaikan dalam Group DINASTY NAGUR
Uli Kozok : Bahwa Nakur/Nagur itu termasuk Batak merupakan INTERPRETASI, bukan FAKTA. Yang dikatakan oleh Cheng Ho adalah bahwa Nakur terletak BARAT dari Samudra (sedangkan Simalungun terletak di TENGGARA). Lalu dikatakan bahwa Nakur/Nagur merupakan kerajaan sangat kecil yang terdiri dari hanya satu kampung dan menganut bahasa dan adat setempat (Aceh/Melayu bukan Batak). Menurut rekonstruksi, Nagur/Nagur itu terletak di sekitar Pidie. Sangat sukar untuk menghubungkannya dengan Simalungun. Rouffaer memang berpendapat seperti itu, tetapi kebanyakan sejarawan menolak interpretasi Rouffaer.
5 Juli pukul 16:29 · Batal Suka · 1
=============
Uli Kozok : Tulisan di atas ditulis oleh orang yang tidak begitu memahami bidangnya. Misalnya ia tidak tahu perbedaan fundamental antara bahasa dan aksara sehingga timbul kesan seolah-olah bahasa Simalungun berasal dari India yang tentu tidak benar. Tiada dasar ilmiah apa pun untuk Proto dan Deutero Simalungun. Apalagi "teori" bahwa Simalungun berasal dari "pengembara India Selatan". Terus, menurut Groeneveldt bukan PUSAT kerajaan Nagur/Nakur berada di pidie melainkan seluruh kerajaan mini tersebut yang penduduknya hanya terdiri atas satu kamopung dengan 1000 kepala keluarga.
19 Juli pukul 23:47 · Suka · 1

=====================

Uli Kozok : Masalahnya 1. pertumbuhan penduduk tidak begitu tinggi, 2. Nakur itu dikatakan terletak di Pidie. Jarak Pidie-Simalungun sekitar 600km, sama dengan jarak Simalungun-Padang, 3. Nagur memiliki adat-istiadat setempat (Aceh atau Melayu). Karena alasan-alasan tsb maka tidak ada seorang sejarawan yang berani mempertahankan spekulasi Rouffeur.
21 Juli pukul 10:59 · Batal Suka · 1
===========
Nagurata : bila melihat tulisan anda Perkembangan Aksara Batak / Tulisan / Surat Batak ( berasal satu pokok ).
Aksara Batak berasal dari Aksara India yang ter­tua adalah aksara Brahmi >> India Selatan>> Aksara Palawa >> Kawi Sumatera >> Surat Batak

diambil dari:
http://tondangmargana.blogspot.com/2013/02/kontroversi-asal-usul-leluhur-simalungun.html

KONTROVERSI ASAL USUL LELUHUR SIMALUNGUN

KONTROVERSI ASAL USUL LELUHUR SIMALUNGUN


Seminar hasil penelitian dalam rangka penulisan sejarah Simalungun yang dilangsungkan di Disparsenibud Simalungun (10/12/2012) muncul perdebatan sengit tentang asal-usul marga dan raja di Simalungun. Tokoh-tokoh yang diundang hadir sebagai nara sumber yang mewakili keturunan raja-raja marpitu Simalungun yaitu Kamen Purba dari Panei, Jomen Purba dari Purba, abang sdr Satiaraja Girsang dari Silimakuta, Lasim Garingging dari Raya, Dermawan Purba Tambak dari Dolog Silou, Arifin Alamsyah Sinaga (Raja Muda Tanah Djawa) dari Tanah Djawa berbeda pendapat tentang asal-usul nenek moyang marga-marga/raja di Simalungun.

Dokumen arsip dari masa kolonial dan hasil penelitian peneliti asing jelas menerangkan bahwa selain leluhur raja Panei dan Dolog Silou yang tidak berketurunan Toba, selebihnya adalah berketurunan dari Samosir/Toba. Tideman dalam bukunya Simeloengoen dan laporan-laporan Ter Haar, Westenberg, Joustra, Tichelman dan Voorhoeve menyatakan jelas bahwa raja Siantar marga Damanik berasal dari Malau (Samosir)--ditulis juga oleh J. C. Vergouwen dalam bukunya "Adatrecht Toba Batak", Raya marga Saragih Garingging dari Simanindo Samosir (dibenarkan juga oleh Pdt. J. W. Saragih dalam makalahnya di Seminar Kebudayaan Simalungun tahun 1964), dan raja Tanoh Jawa marga Sinaga dari Urat Samosir.

Sedangkan untuk marga raja Purba dan Silimakuta disebutkan berasal dari Tungtung Batu dan Lehu di daerah Pakpak Dairi.

Dokumen para peneliti asing dan laporan pejabat kolonial Belanda itu mendapat penolakan dari perwakilan raja marpitu yang hadiri. Di bawah ini kami rangkumkan sbb:
  • Tuan Arifin Alamsyah Sinaga Sidadihoyong gelar Raja Mudah Tanah Djawa membantah nenek moyang mereka berketurunan dari Sinaga dari Samosir (Toba). Beliau menerangkan bahwa sebelum berdirinya Kerajaan Tanoh Djawa (perubahan dari Tatap Madaoh) sudah berdiri Kerajaan Batangiou dari marga Sinaga di Simalungun. Beliau juga menerangkan bahwa dulu banyak marga-marga pendatang dari Toba yang menyatukan dirinya dengan marga raja Tanoh Jawa (Sinaga), termasuk sebagian dari mereka-mereka atau oknum yang mengaku-ngaku berketurunan dari raja Tanoh Djawa. Menurut beliau, tidak semua partuanan di Tanoh Djawa berasal dari Raja Tanoh Djawa. Selenjatnya beliau juga menerangkan bahwa Tn Kaliamsyah Sinaga itu sebetulnya hanyalah pemangku bukan raja, sebab penerus raja Tanoh Djawa yang sah adalah Tuan Djintar Sinaga gelar Raja Naisimin. Sesudah Tn Djintar wafat maka Belanda mengangkat adiknya Raja Maligas Tn Sangmajadi Sinaga sebagai pemangku raja menunggu anak Tn Djintar Sinaga akil balik. Dijelaskan beliau juga bahwa sejak tahun 1933 keluarga besar Raja Tanah Jawa memeluk agama Islam.
  • Tn. Girsang Silimakuta menjelaskan bahwa penjelasan dari tim tentang Silimakuta ini dongeng dan mohon dijelaskan sumbernya. Menurut beliau Girsang dan Purba itu satu adanya, sejak dulu di Silimakuta tidak dibenarkan Girsang dan Purba kawin, sebab dianggap marsanina. Seteleh dijelaskan oleh Tim bahwa sumbernya dari arsip Belanda, beliau tidak mampu lagi memberikan komentar lanjutan!
  • Tn. Kamen Purba menjelaskan setuju dengan pemaparana Tim, "Saya setuju dengan penjelasan tentang Panei ini karena di Tim ada anak saya yang mengetahu sejarah keluarga besar kami". Beliau hanya memperbaiki ejaan nama yang salah ketik. Dan menambahkan penjelasan lanjutan tentang apa yang dia alami sendiri pada saat terjadi revolusi sosial tahun 1946.
  • DPP PMS menjelaskan setuju dengan penjelasan tim tetapi mohon kalimat tentang dari Samosir supaya dihilangkan, sebab penciptaan manusia hanya sekali terjadi di Taman Eden tidak pernah di Samosir. Menurut Sekjen PMS, Pusuk Buhit itu berlokasi di Sumatra.
  • Lasim Garingging akan berkordinasi dulu dengan Sariaman Saragih ketua Ihutan Bolon Garingging. Mengenai asal Sipinangsori dari Samosir beliau tidak bisa memberi tanggapan karena menurutnya kurang menguasai sejarah.
  • Djomen Purba sudah menulis sejarah Kerajaan Purba dan menyerahkannya ke tim. Menurut tulisan itu Purba Pakpak berasal dari Tipang (Bakkara) dari sana ke Tungtung Batu terus ke Purba Simaiungun. Menurut Djomen Purba Purba Pakpak masih bersaudara dengan Simamora, Sihombing dan Purba di Bakkara.
  • Sarmuliadin Sinaga (Himapsi) membantah asal-usul nenek moyang Simalugun dari Samosir, bahkan menurutnya justru marga Sinaga dari Toba yang berasal dari Simalungun. Nagur menurutnya sudah ada sejak abad ke-lima.

Setelah diskusi itu Tim menjelaskan sbb:
  1. Sejarah bagi orang awam dan historian berbeda persepsi. Sejarah adalah peristiwa yang terjadi pada zamannya dan sumber yang paling mendekati kebenaran haruslah dicari dari zaman peristiwa itu terjadi. Untuk saat ini sumber sejarah yang paling tua dan dalam bentuk tertulis adalah dari zaman Belanda. Sumber lokal Simalungun hampir tidak ada. Satu-satunya sumber sejarah marga/raja di Simalungun yang masih bisa dibaca adalah dari Kerajaan Dolog Silou yang sudah pernah diteliti seksama oleh Dr Voorhoeve. Itulah sebabnya di tulisan mereka hanya keturunan Raja Dolog Silou-lah yang jelas disebutkan tidak berketurunan dari Toba.
  2. Hendaknya dalam menulis sejarah ini kita harus objektif. Dan untuk saat ini dalam penulisan sejarah ini masih harus kita putuskan apakah kita mau menulis sejarha suku Simalungun atau sejarah daerah Tkt II Kabupaten Simalungun.
  3. Akan dilanjutkan dengan pembahasan dari draft sejarah berikutnya (waktu dan tempat belum ditentukan).



http://tondangmargana.blogspot.com/2013/02/kontroversi-asal-usul-leluhur-simalungun.html

Asal Simalungun

Ise do na parlobei? 

Membaca tulisan Sdr Ir Gunawan Napitupulu di harian SIB (meski minus dukungan referensi dan data-data literatur ilmiah) sebagai putera Simalungun asli, saya teringat akan percakapan-percakapan formal maupun informal di masyarakat kita, di mana saudara-saudara etnis Batak Toba sepertinya tidak mampu dan tidak rela menerima dan mengakui “otherness” antara suku bangsa Simalungun dan Batak Toba. Dan supaya Sdr Ir Gunawan Napitupulu ketahui, oleh karena inilah sehingga Pdt. J. Wismar Saragih dan kawan-kawan dalam wadah Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen pada tahun 1928 mengadakan perlawanan kultural dan intelektual terhadap pandangan dan kebijakan RMG dengan agency penginjil yang didominasi kaum Kristen Batak Toba yang dirasakan sangat meminggirkan dan merendahkan orang Simalungun yang pandangannya sama persis dengan pandangan Sdr Ir Gunawan Napitupulu.
  • Untuk yang satu ini saya anjurkan agar Sdr membaca disertasi Pak Pdt. Dr. J. R. Hutauruk yang sudah diterjemahkan dan diterbitkan BPK Gunung Mulia yang berjudul Kemandirian Gereja juga buku sejarah GKPS yang saya tulis bersama Pdt. Dr. Martin Lukito Sinaga yang berjudul Tole den Timorlanden das Evangelium (Jakarta, 2003).

Di kedua buku yang sarat dengan data-data ilmiah itu, dibentangkan bagaimana RMG plus agency Kristen Batak Toba tetap tidak mampu mengakui “otherness”nya etnis Simalungun dari Batak Toba. 2 Otherness-nya Suku bangsa Simalungun dengan Batak Toba Setelah membaca dan mendiskusikannya dengan pemuka-pemuka adat/budaya Simalungun seperti Bapak Kadim Morgan Damanik (mantan Ketua Umum Partuha Maujana Simalungun Perwakilan Kabupaten Simalungun) dan Bapak Djaiman Saragih (Ketua Umum Madjelis Kebudajaan Simalungun Indonesia) dan membaca uraian Bapak Tuan Djariaman Damanik. SH dalam surat-suratnya kepada penulis dan membaca literatur asing dalam bahasa Belanda, Inggris, saya akan menanggapi point-point saya yang Sdr bantah itu sebagai berikut : 2.1 Menurut Sdr Napitupulu, Etnis Simalungun bukan berasal dari India Selatan karena tidak mempunyai dasar sejarah yang sah.

Perlu Sdr ketahui dari data-data dan penelitian yang dilakukan Bapak Djariaman Damanik, SH (mantan Kajati Sumut dan Bali) semuanya mengarah ke India Selatan tepatnya di Nagore. Ini apalagi dikaitkan dengan adat kebiasan, karakter dan anatomi tubuh keturunan raja-raja di Simalungun yang berbeda dengan orang Batak Toba yang kemudian mengaku menjadi orang Simalungun (seperti marga Saragih Simbolon, Sijabat, Manihuruk, Damanik Malau, Gurning, Ambarita).

Penulis-penulis Belanda juga tidak menafikan kalau ada keturunan raja-raja Simalungun yang berasal dari India Selatan. Dan satu lagi apabila Sdr membaca disertasi Bapak Prof Dr Bungaran Simanjuntak, Konflik dan Status Kekuasaan Orang Batak Toba (Yogyakarta, 2002), beliau dari hasil penelitiannya mengatakan bahwa nenek moyang orang Batak besar kemungkinannya berasal dari keturunan suku bangsa Munda dan Nagpur di India Selatan, dan menilik adanya Kerajaan Nagur (di India ada kota “Nagpur”) di Simalungun yang jelas merupakan kerajaan Hindu pertama di Sumatera Timur, makin menguatkan pandangan beliau.

Prof Payung Bangun berpendapat adanya konsep raja (monarch) di Simalungun yang berpola “tuan-hamba” berasal dari budaya India (Hindu) yang mengenal “raj” sebagai perwakilan dewa di bumi yang menjamin keselarasan hubungan antara dewa-dewa dengan manusia.

Di Simalungun konsep “raj” ini jelas kelihatan pada saat sebelum masuknya zanding dan agama Islam, di mana raja-raja itu digelari dengan “tuhanta” artinya pemilik kita. RW Liddle malah meyimpulkan, raja-raja Simalungun itu dilihat sebagai representasi ilahi di bumi yang dianggap memiliki kekuatan adikodrati.
Sampai saat ini, konsep pengormatan itu masih ada sisa-sisanya di masyarakat Simalungun, yaitu pandangan orang Simalungun terhadap tondong (Toba: hula-hula), tondong dianggap sebagai pemberi berkat (tuah) yang wajib dihormati seperti nyata dalam kalimat, “Tondong pangalopan podah, sanina pangalopan riah, boru pangalopan gogoh”.

Dalam upacara-upacara adat Simalungun asli, tondong ini selalu berada di depan disambut oleh borunya dengan tarian yang khusyuk dan takzim sampai menyentuh tanah dengan sikap menyembah ke arah tondong dengan iringan gual Rambing-rambing Ramos sambil membawa persembahan kepada tondong tanda penghormatan yang berupa uang yang ditaruh dalam piring putih bertutup bulung tinapak dengan demban yang terdiri dari dua buah, satu untuk bapa dan satu lagi untuk inang.

Dalam upacara kematian orangtua yang sudah “sayur matua” semua kaum laki-laki mengikatkan gotong porsa di kepalanya masing-masing yang bermakna, “keikhlasan keluarga dan orang yang hadir untuk memberangkatakan almarhum.” Di Sumatera Utara ini hanya pada suku Simalungun yang mempunyai adat seperti itu.

Adat ini jelas dari India (Hinduisme), karena sampai sekarang orang Bali Hindu juga masih memakai porsa kalau bersembahyang di pura. Ada memang beberapa kebiasaan dari Siam yang terbawa ke Simalungun seperti “manurduk dayok na binatur” yang sekarang masih ditemukan di Laos. Ini dibawa oleh sebagian nenek moyang suku Simalungun yang berasal dari sana.
Jelasnya, suku Simalungun berketurunan dari beragam nenek moyang, bukan dari satu keturunan, yang semuanya ada yang berasal dari India Selatan dan dari Siam.

Ada yang masuk dari pantai timur, dan juga dari pantai barat melalui Aceh (menyusuri sungai Simpang Kanan di Singkel terus ke Pakpak, Tanah Karo dan akhirnya masuk ke Simalungun).
Groeneveldt menulis dari tulisan Ying Yai Shenglan pusat kerajaan Nagur pernah berada di Pidie sekitar abad XIV. Batrlett (1952:633) menulis sebagaimana dikutip Arlin Dietrich (2003:13) bahwa nenek moyang orang Simalungun pada awalnya berkedudukan di pesisir pantai timur dan akibat desakan dari populasi orang Melayu dari Semenanjung Melayu yang mendirikan kesultanan Melayu berpindah ke pedalaman sampai mencapai pantai Danau Toba.

Dan sampai sekarang pun penduduk Melayu di Serdang dan Deli masih ada yang mengakui kalau nenek moyangnya berketurunan dari suku Simalungun.
Itulah sebabnya keempat marga itu bisa saling mengawini karena berbeda nenek moyang. Dan di Simalungun adat yang melarang kawin semarga itu masih ketat sekali dipegang.
Orang yang kawin semarga itu dihukum oleh huta karena dianggap mardawan begu. Oleh karena itu, dari jalan sejarahnya Simalungun, penduduk yang menjadi etnis Simalungun sekarang ini secara garis besarnya terdiri dari dua keturunan nenek moyang, yakni Proto Simalungun (Simalungun Tua) yang merupakan keturunan raja-raja Simalungun yang berasal dari India Selatan dan Siam yang menurunkan marga-marga raja di Simalungun yakni : Sinaga, Saragih, Damanik dan Purba yang pada awalnya tanpa lineage (cabang marga/sub sib) dan keturunan kedua Deutero Simalungun (Simalungun Muda) yang secara umum berketurunan dari Samosir dan Toba yang zaman dahulu sewaktu raja-raja masih ada, menyesuaikan marganya dengan marga raja-raja yang sepengetahuan mereka di Toba Samosir ada kaitannya agar menjadi rakyat Simalungun (paruma ni harajaan Simalungun).

Mereka ini memakai adat, bahasa dan budaya Simalungun dan bahkan ada di antaranya yang diangkat menjadi yang dipertuan (parbapaan) di Simalungun seperti Tigaras oleh marga Saragih Turnip dan Silampuyang oleh marga Saragih Sidauruk.

Sekarang ini pun di Bosar Maligas dan Tanah Jawa masih ada yang berketurunan dari marga Butara-butar, Sitorus dan Sirait yang mengaku dirinya suku Simalungun karena mereka sudah beberapa generasi tinggal di Simalungun dan memakai bahasa, adat dan budaya Simalungun dalam kesehariannya.

Nenek moyang mereka dahulu sudah berjanji dengan sumpah (marbulawan) di hadapan raja Tanoh Jawa bermarga Sinaga untuk menjadi paruma ni Harajaan Tanoh Djawa. Sedangkan marga Silalahi, Sitopu dan Sipayung pada zaman raja-raja memasuki marga Sinaga.

Persoalan kependudukan ini masih berlangsung terus sampai zaman Belanda, di mana pada tahun 1930 pendatang dari Tapanuli menuntut agar pada mereka diangkat pemimpin sendiri (hoofd der Tobanezen), karena pendatang dari Tapanuli ini tidak bersedia di bawah kekuasaan raja-raja Simalungun.
Tetapi ini tidak lama, karena raja-raja Simalungun merasa dilecehkan, sehingga mereka mengadukan persoalannya kepada pemerintah tinggi di Batavia. Dan akhirnya kedudukan mereka dikembalikan, seluruh pendatang wajib menaati hukum pemerintahan kerajaan.

Barulah setelah raja-raja itu dibantai dalam aksi revolusi sosial 3 Maret 1946, ada kebebasan penuh kepada para pendatang dan foedalisme pun hapus di Simalungun. 2.2 Mengenai posisi dan pengertian raja di Toba dan Simalungun sebenarnya sangat jauh perbedaanya.

Mengenai hal ini, saya anjurkan agar Sdr Napitupulu membaca kertas kerja dari Pdt. Dr. S.M. Siahaan yang berjudul, “Peranan dan Kedudukan Raja dalam Struktur Suku dan Masyarakat Batak Toba” dalam Buletin STT HKBP Vocatio Dei VIII (April-Juni 1984) hal. 25-36. Saya kutip saja sebagian, “…..disimpulkan oleh AB Sinaga bahwa pengertian “raja” dalam masyarakat Batak Toba berbeda jauh dengan segala ide yang mengelilingi kata ini dalam bahasa Indonesia. Dijelaskannya perbedaan pengertian ini dengan pemakaian ungkapan : “raja disi, raja dison, samasama raja”.

Dengan demikian, pengertian raja berarti bukan hamba atau “ndang hatoban.” Sebagai akibat dari sistim perkampungan yang tertutup, maka setiap kampung tidak tergantung kepada seorang raja yang administratif dan feodal” (hal 26). Akan halnya Raja Sisingamangaraja dalam kajian para sejarawan seperti diungkapkan Castles dalam disertasinya, “…hanyalah sekedar pendeta tertinggi dalam moitie kelompok Sumba yang mencakup marga Ompu Pulobatu, yaitu marga Sinambela” marga dinasti Sisingamangaraja bukan seorang raja sebagaimana pengertian ketetanegaraan modern.

Karena itulah dalam disertasi Dr. Lance Castles yang sudah diterjemahkan bejudul Tapanuli (2001:13) ia jelas menerangkan, “Sebelum masa kolonial masyarakat Batak Toba hampir tidak mengenal negara (stateless).

Penduduk kampung tinggal di kampung-kampung yang disebut huta. Dan untuk kelancaran administrasi pemerintahan di Tapanuli, Belanda kemudian mengangkat kepala-kepala kampung menjadi pemimpin dengan pangkat “radja ihoetan” dan “kapala nagari”, sedangkan di Mandailing dengan “kapala kuria.
Akan halnya di Simalungun, berbeda jauh dengan masyarakat Tapanuli. Dalam disertasi Wolfgang Clauss, Economic and Social Change among the Simalungun Batak of North Sumatra (1982:48), beliau menjelaskan: “Of all Batak people, only the Simalungun had developed political structure that resembled a form of state. Before the coming of the Dutch, several small kingdoms headed by radjas exixted in Simalungun, but these lacked both clearly defined territorial boundaries and internal coherence. …..the radja’s direct rule was limited to his capital (pematang) and neighboring villages.” Dalam sejarah Simalungun kerajaan tertua di Sumatera Timur adalah Kerajaan Parpandanan Na Bolag (sekitar abad V) yang kemudian disebut Nagur yang bertentangga dengan Haru (cikal bakal Kesultanan Deli) dan Gasip (cikal bakal Kesultanan Siak).

Nagur dengan dinasti Damanik kemudian pecah menjadi Raja Maroppat sekitar abad XIV (Panei, Silou, Tanoh Djawa dan Siantar). Setelah ditekennya Korte Verklaring oleh raja-raja Simalungun, partuanan banggal Purba, Raya dan Silimahuta yang semula daerah vassal dari Panei dan Silou diangkat statusnya menjadi kerajaan. Sehingga sampai revolusi sosial tahun 1946 ada tujuh kerajaan di Simalungun.

Masing masing mempunyai pola pemerintahan yang sama yang disebut Sioppat Suhu dengan harajaan sebagai kabinetnya dan sub ordinat partuanan dan parbapaan sampai kepada pangulu dengan masing-masing gamot (pejabat pemerintah) yang dikendalikan dari pusat pemerintahan yang disebut “pamatang” (bukan pematang).

Menurut J.R. Hutauruk, satu-satunya hanya ada di Simalungun. 2.3 Bahasa Simalungun. Sdr Napitupulu menyimpulkan, sebenarnya tidak ada perbedaan yang mencolok sekali antara bahasa Simalungun dengan bahasa Batak Toba dan tidak ada kedekatan antara bahasa Simalungun dengan bahasa Sansekerta.

Apa yang saudara ketahui itu adalah pengetahuan orang awam, mereka yang tidak paham dan kenal betul sejarah, struktur, grammatikal bahasa dan jiwa serta vokabulari bahasa Simalungun asli (karena dari daftar kata yang saudara tulis itu ada banyak kata yang bukan termasuk bahasa Simalungun asli dalam hal ini bahasa ibu saya bahasa Simalungun Sin Raya bahasa asli Simalungun).
Dan untuk itu ada baiknya saudara membaca karya pakar bahasa dan aksara Batak Dr Uli Kozok yang berjudul, Warisan Leluhur: Sastra Lama dan Aksara Batak (KPG-Jakarta, 1999). Dan disertasi Prof Hendry Guntur Tarigan, Morfologi Bahasa Simalungun yang berhasil dipertahankannya di Fakultas Sastra Unibersitas Indonesia Jakarta pada tanggal 5 Juni 1979).
Tetapi untuk lebih jelasnya saya akan merangkumkannya sebagai berikut : Memang benar, bahwa pada zaman zending, anggapan umum selalu mengkaitkan etnis Simalungun berasal dari Samosir (Toba) dan bahasanya hanyalah dialek saja dari bahasa Batak Toba.

Itulah sebabnya bahasa dan kebiasaan di Tapanuli diterapkan di Simalungun oleh para zendeling Jerman yang mahir dalam adat dan bahasa Batak Toba. Sejak ketibaan Injil di Simalungun, bahasa Batak Toba-lah yang menjadi bahasa Gereja dan Pendidikan di Simalungun.
August Theis, Guillaume dan Meissel sebagai pionir zending Kristen di Simalungun bukanlah orang yang paham dan menguasai bahasa Simalungun. Mereka bersama pembantunya dari penginjil Batak Toba selalu berkomunikasi dalam bahasa Batak Toba dalam mengabarkan Injil.

Dalam sejarah hanya Simon-lah yang pertama sekali menganjurkan pemakaian bahasa Simalungun dalam mengabarkan Injil kepada pembantu-pembantunya dari Toba dalam mengabarkan Injil di Bandar pada tahun 1905.
Simon-lah orang Jerman pertama yang sadar akan perbedaaan yang sangat mencolok antara bahasa Batak Toba dengan Simalungun. Dan karena “kesalahan” inilah sehingga zending RMG “tidak sukses” mengkristenkan orang Simalungun.

Barulah sejak Pdt. J. Wismar Saragih (oppung-nya Jan Wiserdo Saragih) menjadi “oposan” bagi zending RMG dan kaum Kristen Batak Toba dalam memperjuangkan harkat, martabat suku Simalungun, bahasa dan budaya Simalungun kembali pada tempatnya semula, menjadi tuan di rumahnya di Tanoh Simalungun.
Sebagai seorang Simalungun yang bertahun-tahun tinggal di Tapanuli, beliau paham benar bahwa ada banyak kata-kata dalam bahasa Simalungun dan Batak Toba yang sama bunyinya tetapi berbeda artinya. Tidak saya cantumkan di sini karena akan terlalau panjang.

Kesemuanya ini sudah ia daftarkan (ada 200 buah) dan dipublikasikan di Sinalsal No. 52/Juli/1935. Dan sejak didirikannya Comite Na Ra Marpodah 1928, pertumbuhan orang Simalungun yang menjadi Kristen berlipat ganda, itu disebabkan pemakaian adat, budaya dan bahasa Simalungun dalam proses penginjilan.

Pangulu Balei Djaudin Saragih sebagai pejabat pemerintah sampai mengancam guru-guru Toba yang masih ngotot memakai bahasa Batak Toba akan mengadukannya ke Kerapatan Bolon Raja-raja Simalungun agar dihukum penjara. Dan sejak itu makin surutlah pengaruh bahasa Toba di gereja-gereja Simalungun dan akhirnya hilang sama sekali.

Nah itulah sebentuk perlawanan orang Simalungun tempo doeloe terhadap pandangan inferiornya orang Toba terhadap orang Simalungun sebagaimana dalam pandangan Sdr Napitupulu.
Baiklah kita kembali pada persoalan semula. Menurut ahli bahasa Dr Uli Kozok, bahasa Simalungun adalah bahasa tersendiri yang berdiri di antara bahasa-bahasa Batak (sebab tidak ada bahasa Batak yang tunggal secara ilmiah). Saya kutip selengkapnya : “Kelima suku Batak memiliki bahasa yang satu sama lain mempunyai banyak persamaan.

Namun demikian, para ahli bahasa membedakan sedikitnya dua cabang bahasa-bahasa Batak yang perbedaannya begitu besar, sehingga tidak memungkinkan adanya komunikasi antara kedua kelompok tersebut.
Bahasa Angkola, Mandailing dan Toba membentuk rumpun selatan, sedangkan bahasa Karo dan Pakpak Dairi termasuk rumpun utara. Bahasa Simalungun sering digolongkan sebagai kelompok ketiga yang berdiri di antara rumpun utara dan rumpun selatan (demikian juga pandangan Dr. P. Voorhoeve), namun menurut ahli bahasa Adelaar (1981) secara historis bahasa Simalungun merupakan cabang dari rumpun selatan yang berpisah dari cabang Batak Selatan sebelum bahasa Batak Toba dan Angkola-Mandailing terbentuk.
Nah untuk lebih jelasnya Sdr Napitupulu agar membaca buku Dr. Uli Kozok tersebut di hal. 14. 2.4 Pengaruh India/Sansekerta melalui Djawa-Hindu dan Pagaruyung pada suku bangsa Simalungun. Tideman, Tichelman dan Dr. P. Voorhoeve sebagai sarjana-sarjana Belanda mengakui bahwa suku Simalungun sangat dipengaruhi oleh India/Hinduisme.

  • Pertama, sistem pemerintahan monarkinya Simalungun jelas merupakan adaptasi dari budaya India dengan “raj”nya yang menggolongkan masyarakat Simalungun dalam tiga kelas: partongah (high class), paruma (middle class) dan jabolon/hatoban (lowest class). Bandingkan dengan brahmana, vaisja dan sudra di India.
  • Kedua, gual (kesenian asli) Simalungun yang sangat dekat dengan India, khususnya “inggou sarunei”. Sebagai seorang seniman Simalungun, yang dapat memainkan gonrang dan sarunei Simalungun, saya merasakan kalau seni musik Simalungun asli ini punya punya nilai seni yang khas dan daya “magic” tinggi, dan saya lihat ada banyak persamaan iramanya dengan irama tradisional India dan juga Thailand (saya pernah bermain musik tradisional dengan rombongan mahasiswa dari Universitas Thaksin dari Chiang Mai).

  • Ketiga, upacara penabalan dan pemakaman raja-raja Simalungun tempo doeloe (masih ada microfilimnya di Leiden), sangat dekat dengan upacara penabalan dan pemakaman di India dan jauh beda dengan Batak Toba. Upacaranya agung, khidmat dan penuh dengan nilai-nilai kesakralaan dan dengan protokoler yang rumit serta khas. Untuk ini ada baiknya memang saudara membaca karya Dr. Harry Parkin, Batak Fruit and Hindu Thought (Madras, 1978).
  • Keempat, bahasa Simalungun, jelas dipengaruhi bahasa Sansekerta atau Pallawa (India Selatan), hanya pada etnis Simalungun ada akiran ei, ou, ah, dan huruf penutup g, d yang oleh Dr. P. Voorhoeve diterangkannya merupakan bahasa bona-bona dari satu bahasa purba (proto language), di Karo dan Toba, huruf penutup ini hilang, karena semakin menjauh dari bahasa induknya.

Yang uniknya, seperti diterangkan Dr. P. Voorhoeve, ada kata yang sama dalam bahasa Simalungun tetapi apabila huruf penutup dan akhirannya berbeda, maka artinya juga sudah berbeda. Contoh, “balog” artinya “perbatasan/boundaries”, “balok” artinya, “kayu gelondongan” , “dokdok” artinya, “cabut” seperti dalam sebaris kalimat Pustaha Tuan Bandar Hanopan tentang cerita Kerajaan Silou, “dokdok ma urat ni padang silah on, anggo idokdok ho taridah ma jambulan ni panakboru puteri Ijou”, “dokdog” artinya “bulir padi yang kosong/Toba: lapung”, “pusog” artinya “pusar manusia”, “pusok” artinya bisa “lang siat be/rapat” dan “berdukacita” , “parah” artinya “orang yang sakit”, “para” artinya “tempat perkakas di dapur”, “rub” artinya “bunyi kayu tumbang”, “rup” artinya bersama-sama, “pak” artinya suara benda jatuh, “pag” artinya “berani”.

Di Simalungun ada terdapat bahasa tinggi mirip dengan bahasa Jawa Ngoko dan Jawa Inggil pada etnis Jawa. Menurut ahli bahasa Voorhoeve, bahasa ini hanya terdapat pada suku Simalungun dan sedikit pada suku Karo. Ini disebabkan struktur masyarakat Simalungun yang berpola “monarki feodalistis”, zaman dahulu seluruh percakapan dengan raja punya pola tersendiri yang rumit jauh beda dengan bahasa “awam” Simalungun sekarang ini.

Untuk berbicara dengan raja, sipembicara harus menyebut raja “tuhanta”, permaisuri (puangbolon) dengan “lai” atau “lani”. Saya kutip sepenggal kalimat dalam Pustaha Parpandanan Na Bolag, “Ou, amang umbei-umbei, pardja do lai ham?” Marsampang homai ma guru ondi, “Ou amang pardusun, ulang ihatahon ham au amang umbei-umbei, dong do lai goranku Guru Langgam Banua Holing, hunjai ni Si Lindung do anggo ahu, hun tanoh Batang Toru, jayu silopak ulu, dapot do hubahen mardaras mardorus bulungni torop salih menjadi begu.” Di Simalungun dan Karo untuk menyapa orang yang lebih tua dengan kata “ham/kam”, sedangkan untuk di bawah tingkatan/sederajat dengan kata “ho.”

Tetapi dibanding Karo, Simalungun masih punya “kekhususan”. “Apabila ada orang tua melemparkan pertanyaan kepada kita (yang lebih rendah), pamali apabila dijawab dengan “alo” (Toba” “olo”), karena akan dianggap menghina, karenanya harus dijawab dengan “eak Atturang” atau “eak dahkam”, demikian juga apabila menyebut lebih dari satu orang harus “nasiam” kepada yang lebih tua dan “hanima” atau “handian” kepada yang lebih muda/sederajat.
Singkatnya, bahasa prokem di Simalungun itu ada dan rumit, ini tidak ada di Toba. Mengenai keterkaitan Hinduisme dengan Simalungun saya kutip tulisan Arlin Diertrich (2003:18-19), “istilah “Jawa” ….mengacu ke Pulau Jawa atau ….berkaitan dengan kata “Jau” dan dengan demikian mengacu pada “orang asing”.

Legenda sehubungan dengan berdirinya Kerajaan Tanoh Djawa ini mengisahkan seorang pangeran dari Djawa atau “Djawa Silepahipoen” (orang-orang Djawa bergigi putih”. Nama yang terakhir ini mendorong Tideman untuk meyakini bahwa para penguasa Tanoh Djawa ada kemungkinan berasal dari Tanah Minangkabau atau campuran antara Jawa-Minangkabau.”
Selanjutnya dijelaskan Arlin lagi, “…peninggalan budaya di Simalungun seperti anisan (tiang kubur) dan bangunan suci tertutup yang zaman dahulu yang berfungsi sebagai kuil pemujaan (dahulu banyak terdapat di Dolog Sinumbah-Pardagangan, penelitian Martua Radja Siregar) membuktikan keberadaan unsur pengaruh Djawa Hindu.

Unsur pengaruh Djawa-Hindu juga dijumpai dalam konsep pemerintahan raja dan istana yang jauh lebih berkembang di wilayah Simalungun dibandingkan dengan suku-suku Batak lainnya. Makanya tidak mengherankan apabila Arlin menulis, “…seorang rekan warga India yang kebetulan berkunjung ke Sumatera Utara melontarkan pendapatnya bagaimana ia merasa seperti berada di kampung halamannya sendiri, karena banyaknya, “hal-hal yang berbau India” yang ia jumpai di daerah ini.

Sebagai penutup, saya kutip tulisan Edwin M. Loeb dalam bukunya, Sumatra: Its History and People (1990:20), “The Bataks were influenced to a considerable extent by Hindu civilization. Direct Hindu influence is said by the natives themselves to have come from the east (Timur/Simalungun). The more important Hindu traits imported into the Batak country were wet rice culture, the horse (”batak”=penunggang kuda), the plow, the peculiar style of dwelling, chess, cotton and the spinning wheel, Hindu vocabulary, system of writing (dari aksara Pallawa-India Selatan) and religious ideas.
Tulisnya lagi, “Of more practical importance was the influence exerted by the Hindus among the Timur (Simalungun) and Karo Bataks toward state formation. The Timur (Simalungun) district ruled by radjas and their families are the only large territorial units” (hal. 38). 

Kesimpulan

  1. Menilik perjalanan sejarah suku bangsa Simalungun, nenek moyang suku bangsa Simalungun asli yang menurunkan marga Sinaga, Saragih, Damanik dan Purba (Sansekerta: “Naga”, “Ragih”, “Manik” dan “Purba”) jelas tidak benar berasal dari Toba Samosir melainkan dari keturunan sekelompok pengembara dari India Selatan (Nagore) yang mendirikan Kerajaan Nagur dinasti Damanik Nagur (500-1295) dan Siam (yang leluhurnya mendirikan Kerajaan Panei, Silou, Tanoh Djawa dan Siantar) yang masuk ke Simalungun via Aceh dan pantai Sumatera Timur. Pada abad ke-15 secara bertahap (bnd. teori sungsang) terjadi perpindahan antara masyarakat Simalungun ke Samosir (legenda sappar) dan menurunkan marga Sinaga, Manik, Purba dan Saragi (menurut sebutan orang Samosir) atau sebaliknya bermigrasi ke Simalungun dan memasuki marga raja-raja tersebut agar dapat memperoleh tanah di Simalungun. Jelasnya, di Simalungun ada dua keturunan nenek moyang, yaitu : Simalungun Tua (Proto Simalungun) dan Simalungun Muda (Deutro Simalungun).
  2. Bahasa dan aksara Simalungun berawal dari bahasa tua (Sansekerta/Pallawa) di India Selatan yang bercampur dengan bahasa Melayu Tua. Sedangkan, aksara Simalungun (surat sapuluhsiah) berasal dari aksara Pallawa yang menurut penelitian Dr Uli Kozok bermula di Padang Lawas (Mandailing) dari sana ke Simalungun kemudian ke Toba dan Dairi dan berakhir di Karo.
  3. Kebudayaan dan adat istiadat Simalungun asli banyak merupakan duplikasi adat dan budaya di India Selatan dan Siam yang pada abad ke XIII dan XIV akibat invasi Singosari dan Madjapahit budaya Jawa-Hindu turut menanamkan pangaruhnya. Pengaruh Melayu Islam dan Aceh masuk kemudian mulai abad XV dan XVIII dan budaya Eropa melalui zending RMG masuk pada permulaan abad XX.
  4. Mengingat banyaknya unsur budaya dan keturunan yang masuk ke Simalungun, sehingga etnis Simalungun tercatat merupakan etnis yang terbuka dengan pendatang (sehingga etnis Simalungun hanya + 20 % saja dari penduduk Kabupaten Simalungun sekarang dan toleransinya tinggi, sepanjang kepentingan dan harkat martabatnya tidak diutak-atik. Sebab suku Simalungun hidup dalam Habonaron do Bona yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan. D. Penutup Demikianlah tanggapan saya atas bantahan Sdr Gunawan Napitupulu seorang etnis Batak Toba; yang menurut saya cukup “berani” menjelaskan eksistensi suku bangsa Simalungun.

Koentjaraningrat begawan antropolog itu menulis, “yang dapat menjelaskan persis ekesistensi suatu suku bangsa adalah suku bangsa itu sendiri, bukan orang lain.” Salam Habonaron do Bona. Penulis adalah pendeta GKPS dan Pengurus Presidium Partuha Maujana Simalungun di Seksi Sejarah, tinggal di tepian Danau Toba, Tongging Taneh Karo Simalem. Pamatangsiantar, 29 Februari 2006 

Tulisan ini dikutip dari:
http://www.limbongmulana.com/detail-500018-simalungun-bukan-batak.html