Rabu, 09 September 2015

KERUNTUHAN MONARCHI SIMALUNGUN

KERUNTUHAN MONARCHI SIMALUNGUN
BANGUN DAN RUNTUHNYA KERAJAAN SIMALUNGUN SUMATERA TIMUR

Oleh: Erond Litno Damanik, M.Si

1.Pengantar.

Riwayat asal mula kerajaan Simalungun hingga kini belum diketahui pasti, terutama tentang kerajaan pertama yakni Nagur (Nagore, Nakureh). Demikian pula kerajaan Batanghiou serta Tanjung Kasau. Kehidupan kerajaan ini hanya dapat ditelusuri dari tulisan-tulisan petualang dunia terutama Marcopolo dan petualang dari Tiongkok ataupun dari hikayat-hikayat (poestaha partikkian) yang meriwayatkan kerajaan tersebut. Di zaman purba wilayah Simalungun mempunyai 2 buah kerajaan besar yaitu pertama kerajaan Nagur yang ada di dalam catatan Tiongkok abad ke-15 (“Nakuerh”) dan oleh Marcopolo tatkala ia singgah di Pasai tahun 1292 M. kerajaan besar itu menguasai wilayah sampai-sampai ke Hulu Padang-Bedagai dan Hulu Asahan. Kerajaan tua yang lain ialah Batangio yang terletak di Tanah Jawauri (Tanoh Jawa). Pada masa itu, kerajaan Simalungun dikenal dengan nama harajaon na dua (kerajaan yang Dua) Selanjutnya, diketahui bahwa pasca keruntuhan kerajaan Nagur, maka terbentuklah harajaon na opat (kerajaan Berempat) yaitu: Siantar, Tanoh Jawa, Panai dan Dolog Silau. Ke-empat kerajaan ini menjadi populer pada saat masuknya pengusaha kolonial Belanda, dimana tiga kerajaan yakni Tanoh Jawa, Siantar dan Panei bekerjasama dengan pengusaha kolonial dalam memperoleh perijinan tanah. Setelah masuknya Belanda terutama sejak penandatanganan perjanjian pendek (korte verklaring) maka tiga (3) daerah takluk (partuanan) Dolog Silau di naikkan statusnya menjadi kerajaan yang sah dan berdiri sendiri, yakni Silimakuta, Purba dan Raya. Pada saat itu, kerajaan di Simalungun dikenal dengan nama harajaon na pitu (kerajaan yang Tujuh). Simalungun Sumatera Timur.Akhir dari kerajaan Simalungun ini adalah terjadinya amarah massa pada tahun 1946 yang dikenal dengan revolusi Sosial. Sejak saat itu, peradapan rumah bolon (kerajaan) Simalungun punah selama-lamanya. Dengan uraian singkat diatas, penulis berkeinginan untuk menulis kembali sejarah berdiri dan hanucrnya kerajaan.Atas dasar inilah, penulis berkeinginan untuk mendeskripsikan kembali sejarah bangun dan hancurnya kerajaan Simalungun Sumatera Timur yang banyak diriwayatkan dalam sejarah Simalungun.

2. Tiga fase Kerajaan Simalungun.

Secara historis, terdapat tiga fase kerajaan yang pernah berkuasa dan memerintah di Simalungun. Berturut-turut fase itu adalah fase kerajaan yang dua (harajaon na dua) yakni kerajaan Nagur (marga Damanik) dan Batanghio (Marga Saragih). Berikutnya adalah kerajaan berempat (harajaon na opat) yakni Kerajaan Siantar (marga Damanik), Panai (marga Purba Dasuha), Silau (marga Purba Tambak) dan Tanoh Jawa (marga Sinaga). Terakhir adalah fase kerajaan yang tujuh (harajaon na pitu) yakni: kerajaan Siantar (Marga Damanik), Panai (marga Purba Dasuha), Silau (marga Purba Tambak), Tanoh Jawa (marga Sinaga), Raya (marga Saragih Garingging), Purba (marga Purba Pakpak) dan Silimakuta (marga Purba Girsang).Seperti yang dikemukakan diatas bahwa asal muasal kerajaan Simalungun tidak diketahui secara pasti terutama dua kerajaan terdahulu yakni Nagur dan Batanghiou. Sinar (1981) mengemukakan bahwa kerajaan Nagur telah ada dalam catatan Tiongkok abad ke-15 (“Nakuerh”) dan oleh Marcopolo tatkala ia singgah di Pasai tahun 1292 M. Kerajaan besar itu menguasai wilayah sampai ke Hulu Padang-Bedagai dan Hulu Asahan. Kerajaan tua yang lain ialah Batangio yang terletak di Tanah Jawauri (Tanoh Jawa). Kendati konsepsi raja dan kerajaan di Simalungun masih kabur, akan tetapi, Kroesen (1904:508) mengemukakan bahwa konsep raja dan kerajaan itu berasal dari orang Simalungun itu sendiri sebagai perwujudan otonomi kekuasaan yang lebih tinggi. Bangun dalam Saragih (2000:310) mengemukakan bahwa kata ‘raja’ berasal dari India yaitu ‘raj’ yang menggambarkan pengkultusan individu penguasa. Mungkin saja konsep itu terbawa ke Simalungun akibat penetrasi kerajaan Hindu-Jawa seperti Mataram lama pada masa ekspansi ke Sumatera Timur (Tideman,1922:58). Lebih lanjut dikemukakan bahwa pengaruh Hindu di Simalungun dapat diamati langsung dari bentuk peninggalan yang mencerminkan pengaruh Hindu-Jawa. Nama kerajaan Tanoh Djawa setidaknya telah mendukung argumentasi itu Menurut sumber Cina yakni Ying-yai Sheng-ian, pada tahun 1416, kerajaan Nagur (tertulis nakkur) berpusat di Piddie dekat pantai barat Aceh Dikisahkan bahwa raja nagur berperang dengan raja samudra (Pasai) yang menyebabkan gugurnya raja Samodra akibat panah beracun pasukan Nagur. Pemaisuri kerajaan Samodra menuntut balas dan setelah diadakannya sayembara, maka raja Nagur berhasil ditewaskan. Kendati demikian, sejarawan Simalungun sepakat bahwa lokasi ataupun pematang kerajaan Nagur adalah di Pematang Kerasaan sekarang yang berada dekat kota Perdagangan terbukti dengan adanya konstruksi tua bekas kerajaan Nagur dari ekskavasi yang dilakukan oleh para ahli (Tideman, 1922:51). Mengenai polemik tentang lokasi defenitif kerajaan Nagur pernah berada dekat Pidie (Aceh) dapat dijelaskan sebagai akibat luasnya kerajaan Nagur. Oleh karenanya, raja Nagur menempatkan artileri panah beracunnya pada setiap perbatasan yang rentan dengan invasi asing. Kerajaan Batanghio, tidak ditemukan tulisan-tulisan resmi tentang riwatnya maupun pustaha yang mengisahkan asal-usulnya. Hanya saja Tideman (1922) menulis dalam nota laporan penjelasan mengenai Simalungun. Oleh para cerdik pandai Simalungun, Batanghio pada awalnya dipercaya sebagai partuanon Nagur, akan tetapi karena kemampuannya dan karena luasnya kerajaan Nagur, maka status partuanon itu diangkat menjadi kerajaan. Pada tahun 1293-1295, kerajaan Nagur dan Batanghio diinvasi kerajaan Singasari dengan rajanya yang terkenal, Kertanegara.
selanjutnya...........
http://1simetri1.wordpress.com/2008/02/20/keruntuhan-monarchi-simalungun/
Parlindungan Damanik copas sebagian dari tulisan dibawah ini.............
Yth. Bapa Erond L. Damanik, M.Si
Dalam Tulisan terdapat :
…….Diyakini bahwa kerajaan ARU adalah kerajaan yang besar dan kuat sehingga dianggap musuh oleh kerajaan Majapahit. Hal ini dapat dibuktikan dari sumpah Amukti Palapa sebagaimana yang ditulis dalam kisah Pararaton (1966), yaitu: Sira Gajah Madapatih amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah mada: ”Lamun awus kalah nusantara isun amuktia palapa, amun kalah ring Guran, ring Seran, Tanjung Pura, ring HARU, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti Palapa”. Hal senada juga dikemukakan oleh Muh. Yamin dalam bukunya dengan judul ”Gajah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara ”(2005).
Demikian pula dalam hikayat ”Parpadanan Na Bolag” yang mengisahkan kerajaan ”Nagur” yakni kerajaan Batak Timur Raya. Dalam catatan pengembara asing, kerajaan ini sering disebut ”Nakur”, atau ”Nakureh” maupun ”Jakur”. Kerajaan ini, menurut M.O. Parlindungan dalam bukunya Tuanku Rao (1964) berdiri pada abad ke 6-12. Rajanya yang terkenal adalah Mara Silu yang oleh penulis Karo disebut bermarga Ginting Pase dan masyarakat Batak Timur Raya menyebut marga Damanik. Nama Mara Silu banyak disebut didalam ”Hikayat Raja-raja Pasai”, ”Sejarah Melayu”, dan ”Parpadanan Na Bolag” dan diyakini sebagai Raja Nagur dari Batak Timur Raya. Menurut catatan MOP dalam bukunya ”Tuanku Rao” sepenakluk Aceh terhadap ”Nagur”, Mara Silu dan laskar yang tersisa menghancurkan bandar Pase (Aceh) pada tahun 1285 dan masuk Islam serta berganti nama menjadi Malikul Saleh, Sultan Samudra Pase yang pertama. Sejak saat itu, kerajaan Nagur tidak lagi ditemukan dalam tulisan-tulisan selanjutnya…………..
Bisa diambil kesimpulan : Kalau Mara Silu berarti bermarga Damanik.
sepenakluk Aceh terhadap ”Nagur”,– Aceh yang dimaksud, dinasti siapa ?
Terima Kasih.
=====================
Dear Pak Damanik,
Samudra pasai, yang raja pertamanya adalah Malk Al Saleh (malikul Saleh) wafat pada 1290 sesuai batu nisanya. Jadi, pada saat itu, Nagur masih eksis. Bisa jadi, balas dendam Aceh ke sumatra Timur adalah pada saat Sultan Al-Qahar-II, Mengapa?. Tercatat bahwa sultan ini sering melakukan peperangan dengan kerajaan di luar pasai, termasuk ke Sumatra Timur. Ini terjadi pada awal abad 15.
Kerajaan Nagur Massab menurut perhitungan saya pada abad ke-15 ini sejalan dengan berdirinya harajaan na opat di Simalungun. Lagi pula, pada abad ke-15 ini, nama nagur sudah tidak ada di sebut lagi.
Masa penyerangan Iskandar muda terbesar adalah tahun 1612, yakni kehancuran Deli Tua. Disini juga, nagur sudah tidak ada.
Berdasarkan manuskrip partikkian bandar hanopan yang mengisahkan berdirinya Dolog Silau, bahwa Silau berdiri dimana raja silou kawin dengan panak boru nagur yang terakhir yakni pada abad-13.
Abad-abad inilah nagur diperirakan lenyap. Tapi, itupun masih perlu penyelidikan intensif.
Salam
Erond L. Damanik
http://pussisunimed.wordpress.com/2010/01/25/situs-sejarah-2/
Djaja Surapati Saragih Bani tulisan yang berjudul : Keruntuhan Monarchi Simalungun.........dstnya, oleh Erond L Damanik, iposting Parlindungan Damanik, dong kalimat "Akhir dari Kerajaan Simalungun ini adalah terjadinya amarah massa pada tahun 1946 yang dikenal dengan Revolusi Sosial". Sukkun2, ise do massa na marah on ? Rakyat inggot ni huta ai do ?
Parlindungan Damanik Copas sebagian ..... Mara Silu , Malikul Saleh, Sultan Samudra Pase , Raja Nakur
====================
Kesultanan Pasai, juga dikenal dengan Samudera Darussalam, atau Samudera Pasai, adalah kerajaan Islam yang terletak di pesisir pantai utara Sumatera, kurang lebih di sekitar Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara, Provinsi Aceh, Indonesia.

Belum begitu banyak bukti arkeologis tentang kerajaan ini untuk dapat digunakan sebagai bahan kajian sejarah.[1] Namun beberapa sejarahwan memulai menelusuri keberadaan kerajaan ini bersumberkan dari Hikayat Raja-raja Pasai,[2] dan ini dikaitkan dengan beberapa makam raja serta penemuan koin berbahan emas dan perak dengan tertera nama rajanya.[3]

Kerajaan ini didirikan oleh Marah Silu, yang bergelar Sultan Malik as-Saleh, sekitar tahun 1267. Keberadaan kerajaan ini juga tercantum dalam kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) karya Abu Abdullah ibn Batuthah (1304–1368), musafir Maroko yang singgah ke negeri ini pada tahun 1345. Kesultanan Pasai akhirnya runtuh setelah serangan Portugal pada tahun 1521.

Pembentukan awal

Berdasarkan Hikayat Raja-raja Pasai, menceritakan tentang pendirian Pasai oleh Marah Silu, setelah sebelumnya ia menggantikan seorang raja yang bernama Sultan Malik al-Nasser.[2] Marah Silu ini sebelumnya berada pada satu kawasan yang disebut dengan Semerlanga kemudian setelah naik tahta bergelar Sultan Malik as-Saleh, ia wafat pada tahun 696 H atau 1297 M.[4] Dalam Hikayat Raja-raja Pasai maupun Sulalatus Salatin nama Pasai dan Samudera telah dipisahkan merujuk pada dua kawasan yang berbeda, namun dalam catatan Tiongkok nama-nama tersebut tidak dibedakan sama sekali. Sementara Marco Polo dalam lawatannya mencatat beberapa daftar kerajaan yang ada di pantai timur Pulau Sumatera waktu itu, dari selatan ke utara terdapat nama Ferlec (Perlak), Basma dan Samara (Samudera).

Pemerintahan Sultan Malik as-Saleh kemudian dilanjutkan oleh putranya Sultan Muhammad Malik az-Zahir dari perkawinannya dengan putri Raja Perlak. Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malik az-Zahir, koin emas sebagai mata uang telah diperkenalkan di Pasai, seiring dengan berkembangnya Pasai menjadi salah satu kawasan perdagangan sekaligus tempat pengembangan dakwah agama Islam. Kemudian sekitar tahun 1326 ia meninggal dunia dan digantikan oleh anaknya Sultan Mahmud Malik az-Zahir dan memerintah sampai tahun 1345. Pada masa pemerintahannya, ia dikunjungi oleh Ibn Batuthah, kemudian menceritakan bahwa sultan di negeri Samatrah (Samudera) menyambutnya dengan penuh keramahan, dan penduduknya menganut Mazhab Syafi'i.[5]

Selanjutnya pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Malik az-Zahir putra Sultan Mahmud Malik az-Zahir, datang serangan dari Majapahit antara tahun 1345 dan 1350, dan menyebabkan Sultan Pasai terpaksa melarikan diri dari ibukota kerajaan
Relasi dan persaingan

Kesultanan Pasai kembali bangkit dibawah pimpinan Sultan Zain al-Abidin Malik az-Zahir tahun 1383, dan memerintah sampai tahun 1405. Dalam kronik Cina ia juga dikenal dengan nama Tsai-nu-li-a-pi-ting-ki, dan disebutkan ia tewas oleh Raja Nakur. Selanjutnya pemerintahan Kesultanan Pasai dilanjutkan oleh istrinya Sultanah Nahrasiyah.

Armada Cheng Ho yang memimpin sekitar 208 kapal mengunjungi Pasai berturut turut dalam tahun 1405, 1408 dan 1412. Berdasarkan laporan perjalanan Cheng Ho yang dicatat oleh para pembantunya seperti Ma Huan dan Fei Xin. Secara geografis Kesultanan Pasai dideskripsikan memiliki batas wilayah dengan pegunungan tinggi disebelah selatan dan timur, serta jika terus ke arah timur berbatasan dengan Kerajaan Aru, sebelah utara dengan laut, sebelah barat berbatasan dengan dua kerajaan, Nakur dan Lide. Sedangkan jika terus ke arah barat berjumpa dengan kerajaan Lambri (Lamuri) yang disebutkan waktu itu berjarak 3 hari 3 malam dari Pasai. Dalam kunjungan tersebut Cheng Ho juga menyampaikan hadiah dari Kaisar Cina, Lonceng Cakra Donya.[6]

Sekitar tahun 1434 Sultan Pasai mengirim saudaranya yang dikenal dengan Ha-li-zhi-han namun wafat di Beijing. Kaisar Xuande dari Dinasti Ming mengutus Wang Jinhong ke Pasai untuk menyampaikan berita tersebut.[6].....................
http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Samudera_Pasai
Erond L Damanik Pak Djaja Surapati Saragih: untuk selengkapnya tentang uraian 'Massa' disitu, dapat dibaca di Anthony Reid. 1992. The Blood of the People: Revolution and The End of Traditional Rule of Sumatera. (Sudah diterjemahkan ke bahasa Indoensia)........
Karles Hasiholan Sinaga Friendky Sejati = okelah lawei semoga tahan sama boru sinaga yang terkenal garang dan galaknya. sai horasma.
Siraja Batak itu ada, tapi perlu sebuah rekayasa untuk menyambung dengan Tarombo Toba.
Sabar mungkin dalam seminggu ini aku Publish. lagi ngerjain terjemahan dulu abis bahasa inggri aku kacau balau.
Erond L Damanik Coba dibaca seluruh buku toba na sae. Maka akan ketahuan bahwa, Sitor menulis buku itu dengan membentangkan sejarah mereka dari siraja batak hingga sm raja adalah segaris keturunan dengan sitor yang bermarga situmorang....
Karles Hasiholan Sinaga Ya Pak Erond L Damanik, dan dia juga buat Sinaga itu adeknya Situmorang (mencoba menghilangkan kesulungan kami Sinaga) Tapi sisi Positifnya Lontung dengan Pandeta Raja Sinaga nya tidak tunduk Pada SM Raja tapi diperhalus dia dengan Menghormati SMR.
Lumayan bisa dibanggakan Ompung saya itu, meski besok aku tetap kerja, tapi leluhurku boleh tahan juga.
Semua sejarah pastinya tidak boleh lepas dari kepentingan penulis, setidaknya perasaannya yang menggiring, seperti Sitor Situmorang. diateitupa.
Erond L Damanik Baca juga buku WB Sijabat tentang Ahu sisingamangaraja. Hal yang sama akan diketahui bahwa Sijabat mencoba mendamaikan SM Raja dengan Nomensen, walaupun kedua tokoh ini tak pernah damai. Maka buku itupun habis dimaki oleh Uli Kozok. Sejak saat itu, saya tak pakai buku Toba Na Sae dan buku Ahu Sisingamangaraja......
Erond L Damanik Tidak objektif..........
Karles Hasiholan Sinaga itu sebenarnya salah satu misteri Batak, mengenal tulisan tetapi kenapa sejarah tak tertulis (atau masih disimpa Barat), jadi sumber2 kita dari luar yang banyak dan ntah gimana juga kepentingan mereka. tapi ya setidaknya yang kita kembangkan adalah yang berguna untuk kesatuan kita, apakah kelak di bawah bayang2 nagur atau Batak atau apapun namanya.
Lalu hal yang sangat sulit mengembangkan pola pikir dan kebudayaan sesuai apa yang sudah dirancang oleh nenek moyang, meski akhirnya penyimpangan banyak terjadi. tapi itulah hidup penuh liku, jaya kemarin, habis besok, bangkit lagi kalau bisa kalau tak digantikan yang baru.
Parlindungan Damanik Uli Kozok , pernah membuka Blog Teori tentang Kerajaan Nagur di Simalungun dengan Nakur di Pidie ( Aceh ) oleh Rouffaer, Gerrit Pieter (1860-1928)http://www.historici.nl/Onderzoek/Projecten/BWN/lemmata/bwn1/rouffaer
===================
Teori yang menyamakan Kerajaan Nagur di Simalungun dengan Nakur di Pidie (Aceh) awalnya dikemukakan oleh Gerrit Pieter Rouffaer (1860-1920). Namun teori itu tidak pernah menjadi populer di kalangan sejarawan, dan ahli Simalungun Tideman dengan tegas menyatakan bahwa Rouffaer keliru. Apalagi Nakur itu dikatakan kerajaan yang sangat kecil dengan jumlah penduduk hanya sekitar 1000kk.

Belakangan ini bermunculan klaim seolah-olah Nagur pernah merupakan kerajaan besar di Sumatra Utara setara dengan Kerajaan Aru. Malahan dikatakan bahwa Nagur itu ramai disebut oleh para pengelana seperti Marco Polo, Ibn Battuta, dan Mendes Pinto. Ketika saya periksa sumber asli di perpustakaan, hasilnya kosong. Sampai sekarang saya belum mendapatkan rujukan yang menyebut Nagur atau Nakur.

Jadi bagaimanakah Nagur itu? Silakan ikut nimbrung di
http://ulikozok.com/?p=1
==========================
dicoba dengan terjemahan google translated

Rouffaer, Gerrit Pieter (1860-1928)

Rouffaer, Gerrit Pieter, ahli ilmiah serbaguna sehubungan dengan Hindia Belanda (Kampen 1860/07/07 - 1928/08/01 Den Haag). Rouffaer putra Benyamin, seorang kapten di angkatan laut pedagang, dan Johanna Susanna Bondam. Dia belum menikah.

Rouffaer kiri setelah sekolah tinggi pada tahun 1877 di Universitas Politeknik Delft mendaftar. Setelah dua tahun ia memutuskan studinya untuk insinyur pertambangan. Ada waktu perjalanan panjang seni melalui Eropa dan sebagian besar diri. Periode ini berakhir pada 1885 saat kakaknya, dengan siapa ia tinggal di Diepenveen, meninggal. Rouffaer memutuskan untuk pergi ke Hindia Belanda, mungkin untuk mengalihkan perhatian sendiri. Alasan lain tidak diragukan lagi kekagumannya Multatuli, yang tulisan-tulisannya ia telah bertemu di Delft. Akhir tahun 1885 ia tiba di Batavia. Segera dia dihadapkan dengan gosip India dan menggerutu. Dalam berbagai wawancara ia mencoba untuk pergi ke belakang penyebabnya. Banyak dari apa yang ia dengar, ia menulis dalam naskahnya dalam membaca gambar jelas buku harian idem, data berharga aman melalui India vastleggend histoire intime. Ini melihat ke latar belakang arti India ketidakpuasan dipimpin Rouffaer ini sangat meragukan ide-ide liberalnya kolonial. Dia bertanya-tanya apakah itu dibenarkan bahwa parlemen di Belanda ikut campur dalam urusan Indonesia. Sementara itu Rouffaer mulai untuk masyarakat India sangat tertarik bahwa rencana awalnya (setelah 8 bulan kembali ke Belanda untuk belajar melukis Belanda) di latar belakang adalah. Lagi dan lagi ia membuat keberangkatannya, sehingga tinggal di India ada akhirnya satu tahun lima. Ini juga merupakan dasar untuk karir masa depannya. Awalnya ditahan Rouffaer Havelaar yang bersangkutan dengan kasus ini. Dia mendokumentasikan dirinya benar-benar untuk ini, termasuk banyak percakapan dengan pejabat yang terlibat dalam kasus tadi. Sayangnya, ia tidak pernah menyelesaikan investigasinya. Catatannya dan studi yang diawetkan. R. Nieuwenhuys bersaksi dalam artikelnya 'Rouffaer dan Multatuli "betapa pentingnya bahan ini bahkan hari ini. Meskipun mengagumi Multatuli telah Rouffaer sebagai penulis, ia tidak buta terhadap kesalahan sebagai PNS. Terutama kurangnya empati dalam tradisi Banten ia diperhitungkan untuk Multatuli.

Selama 1886, Rouffaers perhatian ditarik oleh Hindu-Jawa antik. Dalam surat kepada Masyarakat Batavia Seni dan Ilmu Pengetahuan, misalnya, ia menjelaskan beberapa bas-relief Candi Borobudur dan Dieng di atas reruntuhan. Jika dia pergi ke Yogyakarta pada tahun 1887 ia menjadi lebih dan lebih tertarik pada negara-negara pertanian dari Kepangeranan, meskipun minatnya pada benda antik Jawa tidak pernah hilang. Untuk studi pertanian, ia membuat banyak salinan dari arsip lokal. Seperti yang dilakukannya dalam kasus Havelaar telah dilakukannya, ia mencoba lagi di pihak Indonesia dari hubungan kolonial di mana untuk hidup. Baru kemudian tahun, bagaimanapun, bahwa pada tahun 1905 hasil studinya di Bagian IV dari Ensiklopedia Hindia Belanda, yang diterbitkan di bawah 'Kepangeranan' kepala. Pada tahun 1931, karya inovatif dalam Adatrechtbundel dicetak ulang................................

http://www.historici.nl/Onderzoek/Projecten/BWN/lemmata/bwn1/rouffaer

Parlindungan Damanik Uli Kozok menyampaikan dalam Group DINASTY NAGUR
Uli Kozok : Bahwa Nakur/Nagur itu termasuk Batak merupakan INTERPRETASI, bukan FAKTA. Yang dikatakan oleh Cheng Ho adalah bahwa Nakur terletak BARAT dari Samudra (sedangkan Simalungun terletak di TENGGARA). Lalu dikatakan bahwa Nakur/Nagur merupakan kerajaan sangat kecil yang terdiri dari hanya satu kampung dan menganut bahasa dan adat setempat (Aceh/Melayu bukan Batak). Menurut rekonstruksi, Nagur/Nagur itu terletak di sekitar Pidie. Sangat sukar untuk menghubungkannya dengan Simalungun. Rouffaer memang berpendapat seperti itu, tetapi kebanyakan sejarawan menolak interpretasi Rouffaer.
5 Juli pukul 16:29 · Batal Suka · 1
=============
Uli Kozok : Tulisan di atas ditulis oleh orang yang tidak begitu memahami bidangnya. Misalnya ia tidak tahu perbedaan fundamental antara bahasa dan aksara sehingga timbul kesan seolah-olah bahasa Simalungun berasal dari India yang tentu tidak benar. Tiada dasar ilmiah apa pun untuk Proto dan Deutero Simalungun. Apalagi "teori" bahwa Simalungun berasal dari "pengembara India Selatan". Terus, menurut Groeneveldt bukan PUSAT kerajaan Nagur/Nakur berada di pidie melainkan seluruh kerajaan mini tersebut yang penduduknya hanya terdiri atas satu kamopung dengan 1000 kepala keluarga.
19 Juli pukul 23:47 · Suka · 1

=====================

Uli Kozok : Masalahnya 1. pertumbuhan penduduk tidak begitu tinggi, 2. Nakur itu dikatakan terletak di Pidie. Jarak Pidie-Simalungun sekitar 600km, sama dengan jarak Simalungun-Padang, 3. Nagur memiliki adat-istiadat setempat (Aceh atau Melayu). Karena alasan-alasan tsb maka tidak ada seorang sejarawan yang berani mempertahankan spekulasi Rouffeur.
21 Juli pukul 10:59 · Batal Suka · 1
===========
Nagurata : bila melihat tulisan anda Perkembangan Aksara Batak / Tulisan / Surat Batak ( berasal satu pokok ).
Aksara Batak berasal dari Aksara India yang ter­tua adalah aksara Brahmi >> India Selatan>> Aksara Palawa >> Kawi Sumatera >> Surat Batak

diambil dari:
http://tondangmargana.blogspot.com/2013/02/kontroversi-asal-usul-leluhur-simalungun.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar